• Kamis, 18 Juni 2026

Menko Polkam Djamari Chaniago Kunjungi Akmil Magelang, Pesan ke Taruna: Jaga Kekompakan

Photo Author
Redaksi, IndoIndikator.com
- Minggu, 7 Juni 2026 | 12:07 WIB

Magelang, 5 Juni 2026, Indexindonesia.com – Udara dingin khas lereng Gunung Merbabu menyambut kedatangan tamu istimewa di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Jumat sore itu. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, tiba di kampus prajurit baja putih itu dengan misi mulia: membekali para taruna dan taruni calon pemimpin TNI masa depan dengan nasihat-nasihat yang tak akan mereka temukan di buku teks biasa.

Bukan sekadar kunjungan seremonial. Djamari Chaniago, yang juga merupakan mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) dan tokoh intelijen militer, tampak begitu dekat dengan para taruna. Ia berbicara bukan sebagai pejabat tinggi negara, tetapi lebih seperti seorang ayah yang sedang menitipkan amanah besar kepada putra-putri terbaik bangsa.

"Anak-anakku sekalian, kalian adalah penerus perjuangan bangsa. Kalian akan menjadi tulang punggung TNI di masa yang akan datang. Maka dengarkan baik-baik apa yang saya sampaikan hari ini," ujar Djamari membuka pembekalan di hadapan ratusan taruna yang duduk rapi di lapangan upacara Akmil.

Apa yang membuat kunjungan ini begitu istimewa? Karena Djamari tidak berbicara teori abstrak. Ia berbicara dari pengalaman puluhan tahun hidup di kerasnya dunia militer, dari medan operasi hingga ruang rapat kabinet. Ia juga berbicara dari kekagumannya pada dua alumni Akmil yang kini namanya terukir dalam sejarah sebagai Presiden Republik Indonesia: Susilo Bambang Yudhoyono dan Prabowo Subianto.

"Perlu diingat oleh kalian, tiga orang Presiden RI berasal dari tentara. Dua di antaranya lahir dari tempat ini, dari Akademi Militer. Yaitu Presiden SBY dan Presiden Prabowo," ungkap Djamari dengan nada penuh haru.

Ia lalu bertanya kepada para taruna, "Apa kesamaan dari dua pemimpin besar itu?" Ruangan hening. Lalu Djamari menjawab sendiri: "Keduanya memiliki kesamaan yang esensial. Mereka tidak pernah berhenti mempelajari hal baru. Dan pintu masuk untuk terus belajar adalah membaca. Keduanya sangat, sangat senang membaca."

-


Djamari kemudian berbagi kisah yang mungkin terdengar sederhana, namun sangat dalam maknanya. Ia menceritakan pengalamannya saat bersama SBY muda di medan operasi. Di tengah situasi yang tidak menentu, di saat peluru bisa datang dari mana saja, SBY tetap membawa buku di dalam ranselnya.

"Saya melihat langsung, Bapak SBY itu di sela-sela operasi selalu menyempatkan diri untuk membaca. Bahkan beliau sering mendapatkan pasokan buku dari garis belakang yang dikirimkan oleh sang istri. Itu menunjukkan komitmen yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan," kenang Djamari, matanya tampak menerawang jauh ke masa lalu.

Lalu ia beralih kepada sosok Presiden Prabowo Subianto, yang juga dikenal sebagai koleganya sejak muda. Djamari mengungkapkan fakta yang mungkin tidak banyak diketahui publik: di kediaman Presiden Prabowo, terdapat perpustakaan pribadi yang sangat besar, mencapai satu setengah lantai rumah.

"Sekitar 80 persen buku di perpustakaan itu membahas berbagai macam pertempuran di seluruh dunia, dari zaman Perang Dunia hingga perang kontemporer. Sekitar 15 persen tentang ekonomi, dan sisanya mencakup ilmu-ilmu lain. Artinya apa? Bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya menguasai satu bidang. Ia harus terus memperluas cakrawala pengetahuannya," tegas Djamari.

Pesan ini bukan tanpa alasan. Menko Polkam ingin menanamkan kesadaran kepada para taruna bahwa tanda pangkat di pundak bukanlah sekadar simbol hierarki. Ia adalah representasi dari kualitas. Seiring naiknya pangkat, maka kualitas diri, wawasan, dan kemampuan juga harus ikut meningkat.

"Tanda pangkat itu adalah tanda kualitas. Jadi, ketika kamu berpangkat kapten, kualitasmu sebagai prajurit harus lebih tinggi dari seorang letnan. Ketika kamu sudah menjadi jenderal, maka kualitasmu harus luar biasa. Jangan sampai pangkatmu naik, tapi kualitasmu biasa-biasa saja," pesannya dengan tegas namun tetap hangat.

Dari literasi, Djamari beralih ke tema yang tidak kalah penting: kekompakan. Ia mengingatkan bahwa ketika para taruna pertama kali masuk Akmil, mereka mungkin berasal dari berbagai daerah, suku, agama, dan latar belakang keluarga yang berbeda. Namun, proses pendidikan di Akmil telah menyatukan mereka menjadi satu kesatuan yang utuh.

"Saat kalian masuk menjadi taruna, mungkin kalian berbeda-beda. Namun setelah ada di sini, kalian adalah satu kesatuan. Ingat, TNI kuat karena kekompakan dan kebersamaan. Jangan pernah biarkan perbedaan kecil merusak soliditas yang sudah kalian bangun dengan susah payah," ujar Djamari.

Ia juga menekankan pentingnya sinergitas dengan institusi lain, terutama Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Menurut Djamari, TNI dan Polri adalah dua pilar utama yang menopang tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Berdiri tegaknya negara ini tidak lepas dari topangan TNI dan Polri. Saat tulang punggung ini tidak lagi kokoh menopang, maka saat itulah negara kita berada dalam kesulitan. Sadari hal itu oleh kalian. Jaga hubungan baik dengan Polri, karena kalian sama-sama mengabdi kepada rakyat dan bangsa," jelasnya.

Di tengah suasana yang serius, tiba-tiba Djamari melempar sebuah kelakar militer yang membuat para taruna tersenyum bahkan tertawa kecil. Ia mengatakan bahwa seorang perwira harus memiliki lima kemampuan utama: gagah perkasa di medan pertempuran, bijak dan disiplin di medan latihan, tekun dan ulet di meja belajar, serta pandai menyanyi.

"Agak janggal ya, mengapa harus pandai menyanyi? Mungkin kalian berpikir ini lelucon. Tapi saya serius," ujarnya dengan mata berbinar.

Lalu ia menjelaskan maknanya. "Dengan bisa menyanyi, kalian bisa dekat dengan prajurit kalian. Dengan bisa menyanyi, kalian bisa dekat dan berkomunikasi dengan rakyat. Saat kalian ikut serta dalam kegiatan kemasyarakatan, kalian tidak akan canggung. Pendekatan kepada masyarakat sangat menentukan peran kita sebagai tulang punggung bangsa."

Pesan ini menyentuh inti kepemimpinan yang humanis. Seorang perwira tidak boleh menjadi sosok yang angkuh dan jauh dari bawahan serta rakyat. Sebaliknya, ia harus bisa menyentuh hati, membangun kedekatan emosional, dan menjadi teladan dalam segala situasi.

Namun pesan yang paling mengharu biru datang di akhir pengarahannya. Djamari berbicara tentang ikatan emosional antara seorang perwira dan prajuritnya. Ia mengingatkan bahwa di saat operasi paling berat sekalipun, di saat peluru beterbangan dan nyawa menjadi taruhan, orang yang paling pertama kali akan membalut luka seorang komandan adalah anak buahnya sendiri.

"Jaga kedekatan dengan prajuritmu, dengan anggotamu. Di saat kita dalam operasi dan berhadapan dengan pertempuran, di saat kamu terluka, bahkan di saat kamu gugur di situ, ingatlah — yang mengangkat mayatmu, yang pertama kali membalut lukamu, membalut darah yang mengucur dari tubuhmu, adalah anggotamu. Bukan orang lain," kata Djamari dengan suara yang lirih namun menusuk kalbu.

Suasana di lapangan upacara Akmil menjadi hening. Beberapa taruna terlihat menunduk, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut seorang jenderal yang telah melewati begitu banyak medan luka dan kehidupan. Djamari tidak sedang memberikan pidato. Ia sedang menitipkan filosofi kepemimpinan sejati.

Sementara itu, Gubernur Akademi Militer, Mayjen TNI Rano Tilaar, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya atas kunjungan tersebut. Ia meyakini bahwa kehadiran Menko Polkam memberikan manfaat yang luar biasa besar bagi para taruna maupun seluruh civitas akademika Akmil.

"Terima kasih kepada Bapak Menko Polkam yang di sela-sela kesibukannya yang begitu padat masih menyempatkan diri untuk mengunjungi Akmil. Tentu ini menjadi sarana yang luar biasa untuk menambah wawasan bagi para taruna maupun civitas akademika di sini. Pengalaman, pandangan, serta nasihat yang Bapak sampaikan hari ini akan menjadi pedoman berharga bagi kami semua," tutur Rano Tilaar.

Dalam kunjungan tersebut, Menko Djamari didampingi oleh sejumlah pejabat internal Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, di antaranya Sekretaris Kemenko Polkam Letjen TNI Mochammad Hasan; Deputi I, III, dan V Kemenko Polkam; para Staf Ahli; serta Staf Khusus Menko Polkam. Dari pihak Akademi Militer, turut hadir Wakil Gubernur Akmil, Direktur Pendidikan (Dirbindik), Direktur Bina Latihan (Dirbinlem), Komandan Resimen Taruna (Danmentar), para Kepala Departemen, Wakil Komandan Resimen Taruna (Wadanmentar), serta para Komandan Batalyon Taruna.

Matahari mulai condong ke barat saat rombongan Menko Polkam berpamitan meninggalkan Akmil. Para taruna berdiri tegak, memberi hormat yang khidmat. Mereka tidak hanya menyaksikan seorang pejabat negara pergi. Mereka baru saja menerima warisan kepemimpinan yang akan mereka bawa sepanjang karier mereka sebagai perwira TNI.

Di balik senyum dan lambaian tangan Djamari Chaniago, ada harapan besar: bahwa 20, 30, atau 40 tahun mendatang, ketika para taruna itu telah menjadi jenderal, mereka akan mengingat pesan sore itu — tentang buku, tentang kekompakan, tentang rakyat, dan tentang prajurit yang akan mengangkat mayat mereka saat gugur. Karena pada akhirnya, seorang pemimpin sejati tidak diukur dari seberapa tinggi pangkatnya, tetapi dari seberapa dalam ia dicintai oleh anak buahnya dan seberapa besar jasanya bagi bangsa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

X