Bagi mereka, kawasan itu bukan sekadar aset administratif. Tempat tersebut menyimpan nilai spiritual dan sejarah panjang yang dijaga turun-temurun.
“Kami di sini menjaga ajaran leluhur. Ini bukan hanya soal tanah,” ujar Mbah Arif.
Ia menegaskan bahwa Eyang Jugo merupakan tokoh penting yang berperan dalam kehidupan masyarakat, mulai dari membuka lahan hingga membangun sumber air.
Selain itu, tradisi budaya seperti kirab dan selamatan rutin digelar dan melibatkan ribuan warga.
Dua Narasi, Satu Titik Panas
Kini, dua perspektif besar berdiri berhadapan, Pemerintah desa mengandalkan dokumen hukum dan regulasi resmi sedangkan Padepokan memegang warisan spiritual dan sejarah hidup masyarakat.
Ketegangan sempat meningkat ketika pihak padepokan mengadukan persoalan ini ke pemerintah daerah. Bahkan, Bupati Malang memanggil kedua pihak untuk klarifikasi.
Meski begitu, Qlik memilih tetap membuka ruang dialog.
“Kalau ada yang tidak setuju, silakan tempuh jalur hukum. Tapi kami tetap ingin musyawarah,” katanya.