Malang, indoindikator.com - Dalam sebulan terakhir, dinamika pemberitaan dan perbincangan publik di Malang Raya diwarnai oleh beragam peristiwa penting yang saling bersilang. Mulai dari isu hoaks yang meresahkan, aksi dukungan dan penolakan terhadap kebijakan nasional, hingga kontroversi tata ruang dan aksi kriminalitas yang menyita perhatian.
Polemik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Aksi Massa
Puncak perhatian publik tertuju pada polemik seputar Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pada 20 Juni lalu, sekitar 7.000 orang yang mengatasnamakan petani, peternak, UMKM, dan relawan menggelar aksi dukungan di Alun-Alun Tugu Kota Malang. Aksi ini digagas sebagai respons balik terhadap gelombang protes dari mahasiswa yang sebelumnya mengkritik program tersebut.
Namun, kegiatan yang semula bertujuan menampilkan solidaritas itu justru menjadi kontroversi akibat munculnya spanduk berisi narasi provokatif, bertuliskan "Usir Mahasiswa Semu Pengaku Mahasiswa dari Bumi Arema". Kehadiran spanduk tersebut langsung memicu kritik tajam karena dinilai sebagai upaya membungkam suara kritis mahasiswa dan berpotensi merusak harmoni sosial. Pihak panitia dan pejabat yang hadir pun berusaha menjauhkan diri, dengan menyatakan bahwa spanduk tersebut bukan bagian dari agenda resmi.
Isu Hoaks "Pocong Begal" Mengguncang Warga
Sebelum hiruk-pikuk politik terjadi, warga Malang Raya sempat diresahkan oleh kabar viral soal kemunculan "pocong abal-abal" atau "pocong begal" yang dikabarkan beraksi di jalanan pada akhir Mei lalu. Isu yang menyebar cepat melalui WhatsApp dan media sosial ini memicu kepanikan di masyarakat.
Menanggapi hal itu, Polres Malang Kota dengan tegas turun tangan dan mengklarifikasi bahwa kabar tersebut 100 persen adalah hoaks atau berita bohong. Pihak kepolisian menyatakan tidak pernah menerima laporan resmi terkait kejadian tersebut dan mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menyaring informasi serta tidak mudah terpancing isu yang tidak bertanggung jawab.
Kontroversi Lahan dan Koperasi Desa Merah Putih
Isu lainnya yang tak kalah panas adalah rencana pengalihan fungsi Lahan Sawah Dilindungi (LSD) di Kota Malang menjadi lokasi pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDPM). Rencana ini mendapat penolakan keras dari kalangan akademisi dan pegiat tata kota, karena dinilai mengancam keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kota yang luas lahannya masih di bawah standar ideal.
Kontroversi ini semakin memanas setelah beredar video viral yang memperlihatkan sebuah mobil operasional KDPM digunakan untuk mengangkut sound horeg (sound system besar). Hal ini memicu gelombang sindiran dan kritik di media sosial, di mana publik mempertanyakan profesionalisme serta prioritas pengelolaan koperasi tersebut.
Aksi Kriminalitas yang Meresahkan
Di tengah gempuran isu politik dan hoaks, sejumlah peristiwa kriminal juga turut memicu keresahan warga. Pada 21 Juni dini hari, terjadi perampokan sadis di kawasan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Seorang ibu rumah tangga yang sendirian di rumah menjadi korban pembacokan dan penikaman di bagian leher, sementara pelaku kabur membawa mobil dan uang tunai milik korban.
Tak hanya itu, beberapa waktu sebelumnya, aksi kekerasan antar pengendara jalan juga sempat viral. Sebuah video menunjukkan dua pemuda pengendara motor meluapkan amarah dengan melempar batu ke mobil karena merasa tersinggung oleh bunyi klakson, mengakibatkan kaca belakang mobil pecah.