berita

Peringati Hari Pendidikan Lingkungan Hidup Sedunia 2026, PPA_BIRR dan 250 Santri Al Mukhlisin Tanam Ratusan Pohon Mahoni di Lereng Gunung Panderman

Senin, 16 Februari 2026 | 18:55 WIB
Puluhan santri berjejer rapi di lereng gunung, mencangkul dan menanam bibit mahoni dengan penuh kegembiraan, mewujudkan pembelajaran lapangan tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

KOTA BATU, Indoindikator.com – Semangat cinta lingkungan menggelora di lereng Gunung Panderman. Dalam rangkaian peringatan Hari Pendidikan Lingkungan Hidup Sedunia (International Environmental Education Day) 2026, Perkumpulan Pecinta Alam Batu Ijo Royo-Royo (PPA_BIRR) berkolaborasi dengan Pondok Pesantren Al Mukhlisin menggelar aksi penanaman ratusan pohon Mahoni di kawasan Jalibar, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu, pada Minggu (15/2/2026).

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 06.30 WIB hingga selesai ini melibatkan 250 santri Pondok Pesantren Al Mukhlisin asuhan H Sulaiman Suhardjito. Mereka turun langsung ke lapangan dengan penuh antusiasme, mencangkul, menanam, dan berdoa agar bibit-bibit yang ditanam tumbuh subur menghijaukan lereng gunung.

-
Suasana penuh semangat 250 santri Pondok Pesantren Al Mukhlisin menanam ratusan bibit pohon mahoni di kawasan Jalibar, lereng Gunung Panderman, dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Minggu (15/2/2026).

Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Desa Oro-Oro Ombo Wiweko, Pengasuh Pondok Pesantren Al Mukhlisin H Sulaiman Suhardjito, Kepala Dusun Hariono, jajaran pengurus PPA_BIRR yang dipimpin Ketua Erfan Hape dan Sekretaris Heru Iswanto, serta Kepala Satgas Perlindungan Alam PPA_BIRR Rudi Sopit.

Menanam Pohon, Menanam Kesadaran Ekologis

Hari Pendidikan Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 26 Januari merupakan momentum global yang berakar dari Belgrade Charter hasil Seminar Internasional tentang Pendidikan Lingkungan tahun 1975. Piagam bersejarah tersebut meletakkan prinsip-prinsip fundamental pendidikan lingkungan yang diadopsi oleh UNESCO dan UNEP .

Peringatan ini bertujuan membangun kesadaran global akan pentingnya pemahaman tentang ekosistem dan lingkungan, sekaligus mendorong aksi nyata dalam menjaga kelestarian bumi . Pendidikan lingkungan tidak hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga membentuk perilaku bertanggung jawab terhadap alam .

Ketua PPA_BIRR Erfan Hape menjelaskan bahwa keterlibatan 250 santri dalam kegiatan ini adalah bentuk pendidikan lingkungan yang paling konkret.

"Alhamdulillah pada hari ini, Minggu 15 Februari 2026 mulai pukul 06.30 WIB, kami bersinergi bersama Pemdes Oro-Oro Ombo dan Pondok Pesantren Al Mukhlisin melaksanakan penanaman pohon mahoni dengan melibatkan 250 orang santri. Selain sebagai upaya pelestarian alam, kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan rasa kepedulian serta rasa kecintaan para santri terhadap kelestarian alam. Semoga kegiatan hari ini lancar, aman dan bermanfaat bagi alam untuk mahluk hidup," ujar Erfan Hape.

Apresiasi untuk Konsistensi Pesantren Hijau

Sekretaris PPA_BIRR Heru Iswanto menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pondok Pesantren Al Mukhlisin yang telah menunjukkan komitmen luar biasa dalam pelestarian lingkungan.

"Saya atas nama pribadi dan Perkumpulan Pecinta Alam Batu Ijo Royo-Royo sangat mengapresiasi dan berterimakasih atas upaya pelestarian alam yang sudah dilakukan Pondok Pesantren Al Mukhlisin ini. Pondok Pesantren Al Mukhlisin asuhan bapak H Sulaiman Suhardjito yang juga merupakan tokoh pecinta alam ini sebelumnya juga sudah berkali-kali melaksanakan penanaman pohon di wilayah Kota Batu. Semoga upaya pelestarian alam dengan melaksanakan penanaman pohon ini dapat ditiru atau dicontoh oleh pondok-pondok pesantren atau lembaga-lembaga pendidikan lainnya," tegas Heru Iswanto.

Konsistensi Pondok Pesantren Al Mukhlisin dalam aksi lingkungan patut menjadi teladan. Kolaborasi antara lembaga pendidikan keagamaan dengan komunitas pecinta alam membuktikan bahwa menjaga bumi adalah nilai universal yang melampaui sekat-sekat organisasi.

PPA_BIRR sendiri telah berkali-kali membuktikan komitmennya dalam aksi lingkungan. Sebelumnya, pada Desember 2025, PPA_BIRR melakukan penanaman pohon di lingkungan Politeknik Kota Batu sebagai bentuk sinergi antara organisasi pecinta alam dengan institusi pendidikan vokasi .

Dukungan Penuh Pemerintah Desa

Kepala Desa Oro-Oro Ombo Wiweko mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang tulus kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penghijauan wilayahnya. Sebanyak 500 pohon mahoni ditanam dalam kegiatan ini, memperkuat upaya rehabilitasi kawasan lereng Gunung Panderman yang memiliki fungsi strategis sebagai daerah resapan air dan pencegah longsor.

"Kami ucapkan terimakasih kepada bapak H Sulaiman Suhardjito dan teman-teman PPA_BIRR yang sudah berkali-kali melaksanakan penanaman pohon di wilayah desa Oro-Oro Ombo. Dan semoga kegiatan penanaman pohon di wilayah desa Oro-Oro Ombo ini bisa terus dilaksanakan," ucap Wiweko.

Kawasan lereng Gunung Panderman sendiri telah berkembang menjadi destinasi wisata edukasi. Salah satunya adalah AMKE (Area Modal Konservasi dan Edukasi) yang terletak di Desa Oro-Oro Ombo, menyuguhkan berbagai aktivitas edukatif tentang pelestarian lingkungan dan konservasi alam. Tempat ini menyediakan ruang bagi keluarga dan pelajar untuk mengenal flora dan fauna lokal serta menerapkan praktik sederhana menjaga lingkungan .

Mengapa Pohon Mahoni?

Pemilihan pohon mahoni (Swietenia macrophylla) dalam kegiatan ini didasarkan pada berbagai pertimbangan ekologis yang mendalam. Pohon mahoni merupakan bagian penting dari ekosistem hutan dan telah lama dikenal sebagai salah satu jenis kayu tropis paling berharga di dunia .

Berdasarkan berbagai sumber penelitian, pohon mahoni memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap polutan udara. Daun mahoni mampu menyerap polusi udara seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan sulfur dioksida hingga 47–69 persen. Proses ini membantu memperbaiki kualitas udara dan menghasilkan oksigen bersih bagi lingkungan sekitar .

Dalam hal penyerapan karbon, pohon mahoni juga sangat unggul. Berdasarkan penelitian, pohon mahoni mampu menyerap hingga 955,73 kilogram karbondioksida (CO2) per tahun . Data penelitian dari Pusat Penelitian Biologi LIPI (sekarang BRIN) menunjukkan bahwa laju penyerapan CO2 pohon mahoni tercatat sebesar 8,30 μmol/m2/detik .

Dengan usia hidup yang dapat mencapai lebih dari 350 tahun serta tinggi pohon mencapai 35-40 meter dan diameter batang hingga 125 cm, mahoni menjadi investasi jangka panjang bagi kelestarian lingkungan .

Selain itu, sistem perakaran mahoni yang kuat berfungsi mengikat tanah dan mencegah erosi, sangat cocok ditanam di kawasan lereng gunung yang rentan longsor. Akar tunggangnya yang kuat menahan tanah dari longsor, sementara daunnya yang rimbun membantu mengatur suhu mikro di lingkungan sekitarnya .

Pohon ini juga mampu menjaga tata air tanah, menyerap debu, meredam angin dan suara, serta memberi tempat hidup bagi berbagai jenis satwa. Kemampuan adaptasinya yang tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan menjadikannya ideal untuk penghijauan di berbagai medan .

Ancaman Bencana Ekologis dan Pentingnya Reboisasi

Kawasan lereng Gunung Panderman memiliki nilai strategis sebagai wilayah penyangga ekosistem Kota Batu. Namun, berbagai tekanan akibat alih fungsi lahan dan eksploitasi alam meningkatkan kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi seperti longsor dan banjir bandang.

Data Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan penyusutan hutan Indonesia dari 118,5 juta hektar pada tahun 1990 menjadi 92,1 juta hektar pada tahun 2020. Bencana ekologis seperti banjir dan longsor di berbagai daerah menjadi buah dari eksploitasi alam tak bertanggung jawab.

Bahkan, mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam pernyataannya baru-baru ini menyoroti bahwa 97 persen deforestasi di Indonesia adalah legal, dan 59 persen wilayah hutan hilang karena terjadi di area konsesi perusahaan, baik sawit, tambang, maupun perusahaan kayu . Hal ini menunjukkan bahwa upaya penghijauan oleh komunitas seperti PPA_BIRR menjadi sangat penting sebagai counter-balance atas eksploitasi yang terjadi.

Akar pohon berfungsi sebagai jaring pengaman alami yang mengikat butiran tanah, meningkatkan infiltrasi air hujan, dan mengurangi aliran permukaan (limpasan) yang menjadi pemicu utama erosi dan banjir bandang.

Pendidikan Lingkungan untuk Generasi Muda

Peringatan Hari Pendidikan Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten . Pendidikan lingkungan adalah kunci untuk membekali warga dengan keterampilan, pengetahuan, dan alat yang diperlukan untuk menghadapi aksi iklim dan membangun masyarakat yang tangguh .

Melibatkan 250 santri dalam aksi penanaman pohon adalah bentuk pendidikan lingkungan yang paling konkret. Mereka belajar langsung tentang fungsi pohon, cara menanam yang benar, serta pentingnya merawat alam. Pengalaman langsung ini akan membekas lebih dalam dibanding sekadar teori di dalam kelas.

Pondok Pesantren Al Mukhlisin di bawah asuhan H Sulaiman Suhardjito, yang dikenal sebagai tokoh pecinta alam, telah berkali-kali membuktikan komitmennya. Pesantren ini tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga membekali santri dengan kecintaan terhadap alam sebagai bagian dari iman.

Baca juga;

Musorkablub KONI Kabupaten Malang Memanas: Mekanisme Pemilihan Diprotes Keras, Voting Tertutup Jadi Penentu

Tags

Terkini