berita

Filosofi "Nangis Bersama" Ala PDIP: Belajar dari Program Bedah Rumah yang Merangkul yang Terpinggirkan

Senin, 16 Februari 2026 | 01:27 WIB
? SEKOLAH KEBERSAMAAN DARI KOTA BATU ? Di balik tembok yang mulai rapuh dan atap yang bocor, ada mimpi seorang janda di Jalan Giri Purno. Hari ini, mimpi itu diperbaiki. Bukan oleh pemerintah, tapi oleh tangan-tangan hangat kader PDIP. Lebih dari sekadar bantuan, ini adalah edukasi gotong royong. Simak! ?

Kota Batu, Indoindikator.com - Sahabat Indoindikator, di tengah hiruk-pikuk politik yang kerap diwarnai gemerlap kampanye dan janji-janji manis, ada cerita berbeda dari Kota Batu. Cerita tentang sebuah rumah sederhana di Jalan Giri Purno yang atapnya bocor parah. Cerita tentang seorang janda yang hidupnya pas-pasan. Dan cerita tentang partai politik yang turun tangan, bukan karena tekanan agenda, tapi karena panggilan hati.

Yang menarik, di balik kegiatan ini tersimpan banyak nilai edukasi yang bisa kita petik.

-
? MEKANISME YANG MELIBATKAN WARGA
Data masuk dari ranting, tim survei turun, lalu diputuskan yang paling mendesak. Tukang-tukang dari kalangan kader dan relawan bergerak. Gotong royong dalam arti sesungguhnya.
Edukasi: Bantuan yang tepat sasaran butuh data akurat dari bawah.

FILOSOFI "NANGIS BERSAMA"

Andreas Eddy Susetyo, Anggota DPR RI dari Fraksi PDIP, menyebut program ini sebagai wujud implementasi ideologi partai.

-
? FILOSOFI "NANGIS BERSAMA"
"Ini adalah bentuk gotong royongan. Filosofi kita: nangis bersama, tetap bersama. Ini bukan jargon, tapi ideologi yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari." – Andreas Eddy Susetyo, Anggota DPR RI.
Apa yang bisa kita pelajari? Bahwa pemimpin sejati hadir saat rakyat susah, bukan hanya saat senang.

"Ini adalah bentuk gotong royongan. Selain itu juga bagaimana kita selalu hidup bersama rakyat. Filosofi kita: nangis bersama, tetap bersama. Ini bukan jargon semata, tapi betul-betul ideologi yang diwujudkan di dalam kehidupan sehari-hari."

Filosofi "nangis bersama" ini mengajarkan bahwa pemimpin sejati tak boleh hanya hadir saat suka, saat pemilu, atau saat ada acara seremonial. Tapi juga saat duka, saat rakyat kesulitan, saat ada air mata yang perlu dihapus.

MENGCOVER YANG TAK TERSENTUH PEMERINTAH

Saifudin Zuhri, anggota Fraksi PDIP DPRD Jawa Timur dari Dapil Malang Raya, memberikan perspektif lain. Ia menjelaskan bahwa program bedah rumah yang dilakukan partai ini justru melengkapi apa yang tidak bisa dilakukan pemerintah.

-
? SINERGI, BUKAN KOMPETISI
"Kita bisa bersinergi dengan pemerintah. Tidak mungkin partai bisa menyelesaikan sendiri, tidak mungkin pemerintah bisa berjalan sendiri. Tapi kalau kita terus bersinergi, insyaallah kita bisa mengatasi persoalan." – Saifudin Zuhri.
Edukasi terpenting: kebersamaan adalah kunci menyelesaikan masalah sosial.

"Pemerintah ketika mempunyai program bedah rumah, administrasinya harus lengkap. Terkait sertifikat tanah dan sebagainya. Nah, kita mengcover yang tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah. Seperti kemarin itu, yang dibantu ternyata tanahnya kepemilikannya belum jelas statusnya. Tapi warga yang tinggal di situ betul-betul membutuhkan."

Di sinilah letak pelajaran berharga: ketika birokrasi pemerintah terikat aturan administrasi yang kaku, partai atau lembaga lain bisa bergerak lebih luwes. Ketika ada warga yang tidak masuk kriteria bantuan padahal sangat membutuhkan, gotong royong bisa menjadi solusi.

MEKANISME YANG MELIBATKAN WARGA

Program ini juga mengajarkan tentang pentingnya data yang akurat dan partisipasi warga. Data warga yang membutuhkan masuk melalui ranting-ranting di tingkat kelurahan/desa. Awalnya ada tiga usulan: satu dari Kecamatan Bumiaji, satu dari Kecamatan Batu, dan satu dari Kecamatan Gunungrejo.

Setelah itu, DPC membentuk tim untuk melakukan survei. Baru setelah survei, diputuskan rumah mana yang paling mendesak untuk dibantu. Yang menarik, dalam pelaksanaannya, partai juga melibatkan tukang-tukang dari kalangan kader dan relawan.

"Kebetulan di partai kita itu banyak yang jadi tukang. Akhirnya nanti kita masukkan ke dalam struktur berkaitan pelaksanaan bedah rumah," jelas pengurus DPC.

KONSISTEN, BUKAN SEREMONIAL

Program bedah rumah ini ternyata bukan acara dadakan atau seremonial satu kali. Pengurus DPC PDIP Kota Batu menegaskan bahwa ini adalah program rutin bulanan yang sudah berjalan konsisten.

"Ini sudah rutin kita lakukan tiap bulan sekali. Kenapa hari ini kita lakukan di tanggal 15 Februari? Karena minggu depan kita sudah puasa, sehingga tidak memungkinkan kalau kita lakukan di akhir bulan."

Konsistensi ini mengajarkan bahwa kebaikan perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya saat ada momen atau saat liputan media.

SINERGI, BUKAN KOMPETISI

Saifudin Zuhri menekankan bahwa program ini bukan dimaksudkan untuk bersaing dengan pemerintah, justru bersinergi.

"Kalau benturan dengan pemerintah, sebenarnya tidak seharusnya. Kita malah bisa bersinergi. Pemerintah paling tidak mengapresiasi apa yang dilakukan oleh PDIP Perjuangan."

Ia berharap ke depan sinergi ini semakin kuat, tidak hanya untuk urusan bedah rumah, tapi juga untuk persoalan sosial lainnya.

-
? MENJANGKAU YANG TAK TERSENTUH
Anggota DPRD Jatim Saifudin Zuhri menjelaskan: "Pemerintah punya program bedah rumah, tapi administrasinya harus lengkap. Sertifikat tanah, dll. Nah, kita mengcover yang tidak mungkin dilakukan pemerintah."
Rumah ini tak masuk kriteria bantuan karena masalah administrasi. Tapi partai hadir untuk menjawab kebutuhan riil. Ini pelajaran tentang fleksibilitas dan kepedulian.

"Entah itu persoalan rumah yang kurang layak huni, urusan kesehatan, urusan apapun, ini harus kita lakukan secara bersinergi dan bergotong-royong. Tidak mungkin partai bisa menyelesaikan sendiri. Tidak mungkin pemerintah bisa berjalan sendiri. Tapi kalau kita terus bersinergi, insyaallah kita bisa mengatasi persoalan-persoalan yang ada di Kota Batu."

PEMBELAJARAN BERHARGA

Ada beberapa nilai edukasi yang bisa kita petik dari program Bedah Rumah Juang ini:

-
? KONSISTEN, BUKAN SEREMONIAL
"Ini sudah rutin kita lakukan tiap bulan sekali. Sebelum puasa kita gaspol!" – Pengurus DPC PDIP Kota Batu.
Bukan sekali lalu selesai, tapi konsisten. Ini mengajarkan bahwa kebaikan perlu dilakukan berkelanjutan, bukan musiman.

1. Filosofi Kepemimpinan – Pemimpin sejati hadir saat rakyat susah, bukan hanya saat senang.
2. Fleksibilitas Bantuan – Ketika birokrasi kaku, gotong royong bisa menjadi solusi.
3. Data dari Bawah – Bantuan tepat sasaran butuh data akurat dari tingkat akar rumput.
4. Konsistensi – Kebaikan perlu dilakukan rutin, bukan musiman.
5. Sinergi Kelembagaan – Partai dan pemerintah bisa bersinergi, bukan bersaing.
6. Gotong Royong – Nilai luhur bangsa ini masih relevan dan perlu dihidupkan kembali.

PENUTUP

Di era di mana kepercayaan publik terhadap partai politik seringkali rendah, program seperti ini menjadi oase. Bahwa di tengah berbagai drama politik nasional, masih ada kader partai yang turun langsung ke lapangan, bergelut dengan debu dan keringat, demi senyum seorang janda yang rumahnya mulai layak huni.

Semoga program ini tak hanya berhenti di Kota Batu, tapi menginspirasi daerah-daerah lain. Karena pada akhirnya, politik yang bermartabat adalah politik yang hadir untuk rakyat, di saat suka maupun duka. Dan gotong royong, sebagai nilai luhur bangsa, harus terus kita jaga dan wariskan.

Salam gotong royong! ??

Baca juga;

 

Tags

Terkini