berita

BANSOS RAMADAN 2026, 35 JUTA KELUARGA DAPAT BERAS 10 KG & MINYAK 2 LITER

Kamis, 12 Februari 2026 | 11:20 WIB
Foto ilustrasi, Dinamika Data: Kenapa Nama Bisa Keluar dari Daftar? ?❓ Tahun lalu dapat bansos, tahun ini enggak. Marah? Jangan dulu! Data bansos itu DINAMIS, diperbarui terus sama BPS & Kemensos. Mungkin kamu sudah

JAKARTA, Indoindikator – Pemerintah resmi mengumumkan program bantuan sosial pangan terbesar dalam satu dekade terakhir menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Sebanyak 35,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) akan menerima paket sembako berupa 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng setiap bulan selama dua bulan, terhitung mulai pertengahan Februari hingga April 2026 .

Total anggaran yang disiapkan negara untuk program ini mencapai Rp11,92 triliun, menjadikannya salah satu instrumen stimulus fiskal terbesar yang difokuskan pada perlindungan sosial masyarakat bawah . Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa program ini dirancang untuk memperkuat daya beli masyarakat sekaligus menjaga stabilitas permintaan domestik di tengah potensi gejolak harga pangan musiman.

"Terkait dengan bantuan pangan untuk memperluas daya beli dan memperkuat dari sisi permintaan, pemerintah menyalurkan bantuan pangan yaitu bentuk bantuan pangan 10 kg beras dan 2 liter minyak goreng selama 2 bulan. Target penerimanya adalah 35,04 juta keluarga penerima manfaat, yaitu masyarakat yang berasal dari desil 1 sampai dengan desil 4," ujar Airlangga dalam konferensi pers di Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (10/2/2026) .

1. DESIL 1-4: SIAPA MEREKA DAN MENGAPA KRITERIA DIPERPERSEMPIT?

Pertanyaan mendasar yang mengemuka di publik adalah: siapa sebenarnya yang berhak menerima bansos ini? Pemerintah melalui Kementerian Sosial telah menetapkan sistem pemeringkatan kesejahteraan berbasis Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) yang membagi masyarakat ke dalam 10 kelompok desil .

Berdasarkan Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 79/HUK/2025, berikut adalah kategori desil yang menjadi rujukan kebijakan bansos 2026 :

Desil Kategori Pengeluaran Per Kapita (Estimasi) Akses Bansos 2026
Desil 1 Sangat Miskin (Miskin Ekstrem) < Rp400 ribu/bulan Semua jenis bansos
Desil 2 Miskin Rp400-600 ribu/bulan Semua jenis bansos
Desil 3 Hampir Miskin Rp600-900 ribu/bulan Semua jenis bansos
Desil 4 Rentan Miskin Variabel per daerah Semua jenis bansos
Desil 5 Pas-pasan Rp1,3 juta/bulan Hanya PBI-JKN (bertahap)
Desil 6-10 Menengah ke Atas Variabel Tidak mendapat bansos

Perubahan fundamental terjadi pada 2026: jika sebelumnya Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)/Program Sembako menjangkau Desil 1-5, kini dipersempit menjadi hanya Desil 1-4 . Konsekuensinya, lebih dari 2,4 juta keluarga yang sebelumnya menerima bansos—terdiri dari 696.920 penerima PKH dan 1.735.032 penerima sembako—harus dialihkan dan digantikan oleh keluarga dari desil paling bawah yang selama ini belum tersentuh bantuan .

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menjelaskan bahwa penyempitan kriteria ini bukan bentuk pengurangan anggaran, melainkan upaya mempertajam sasaran.

"Arah kita ke depan nanti Program Keluarga Harapan (PKH) dan sembako akan difokuskan kepada desil 1 dan 2. Jika alokasinya masih ada, maka akan dinaikkan kepada desil 3 dan 4," jelas Gus Ipul dalam rapat konsultasi dengan Komisi VIII DPR RI, Senin (9/2/2026) .

Kebijakan ini diambil setelah evaluasi mendalam terhadap Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang menemukan inclusion error dan exclusion error signifikan. Gus Ipul mengungkapkan fakta mengejutkan: masih ada lebih dari 54 juta warga rentan yang belum menerima bantuan iuran Jaminan Kesehatan, sementara sekitar 15 juta jiwa dari kelompok lebih mampu (Desil 6-10) masih tercatat sebagai penerima .

"Di mana yang lebih mampu terlindungi, yang lebih rentan justru menunggu. Nah, inilah masalah-masalah yang kita temukan," tegasnya .

2. DINAMIKA DATA: KENAPA NAMA ANDA BISA MASUK ATAU KELUAR DARI DAFTAR?

Salah satu poin edukatif terpenting dari kebijakan ini adalah sifat dinamis status penerima bansos. Masyarakat kerap bertanya: mengapa tahun lalu mendapat bansos, tahun ini tidak? Atau sebaliknya, mengapa tetangga yang tampak lebih mampu justru terdaftar?

Mensos Gus Ipul memberikan penjelasan gamblang:

"Penerima manfaat itu sifatnya dinamis karena kita berpedoman kepada data tunggal yang telah dimutakhirkan secara berkelanjutan oleh BPS. Bisa jadi di triwulan pertama dapat, di triwulan berikutnya tidak dapat. Atau sebaliknya, ada yang belum pernah mendapatkan, sekarang kemudian mendapatkan bantuan sosial" .

Apa yang menyebabkan perubahan status?

1. Pemutakhiran Data Berkala: BPS bersama Kemensos dan pemerintah daerah terus melakukan verifikasi dan validasi data. Keluarga yang kondisi ekonominya membaik akan digraduasi (naik kelas), sementara keluarga yang baru teridentifikasi miskin akan dimasukkan .
2. Program Graduasi: Pemerintah menargetkan 300 ribu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) "naik kelas" setiap tahun. Hingga 2025, sebanyak 77 ribu KPM telah graduasi dari program bansos dan mengikuti program pemberdayaan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat .
3. Usul Sanggah Masyarakat: Warga bisa mengusulkan tetangganya yang layak menerima atau menyanggah data penerima yang dianggap tidak layak. Mekanisme ini menjadi pintu partisipasi publik dalam menjaga akurasi data .

3. CARA CEK DESIL: ANDA BERHAK ATAU TIDAK?

Pertanyaan paling praktis di masyarakat adalah: bagaimana cara mengetahui desil saya? Pemerintah menyediakan dua kanal resmi yang dapat diakses seluruh warga negara secara mandiri :

Metode 1: Website Cek Bansos

1. Kunjungi laman resmi https://cekbansos.kemensos.go.id/
2. Masukkan data sesuai KTP (provinsi, kab/kota, kecamatan, desa/kelurahan)
3. Masukkan nama lengkap sesuai KTP
4. Ketik kode captcha yang tersedia
5. Klik "Cari Data"
6. Sistem akan menampilkan status penerimaan dan jenis bantuan (jika terdaftar)

Metode 2: Aplikasi Cek Bansos Kemensos

1. Unduh aplikasi Cek Bansos di Play Store atau App Store
2. Klik "Buat Akun Baru" dan lengkapi data (NIK, KK, nama lengkap, alamat)
3. Unggah foto KTP dan swafoto untuk verifikasi
4. Tunggu proses verifikasi (biasanya 1x24 jam)
5. Login, buka menu "Profil" atau "Cek Bansos"
6. Status desil akan muncul—angka yang lebih kecil menunjukkan peringkat kesejahteraan lebih rendah

Catatan Penting: Jika sistem menampilkan Anda tidak terdaftar sebagai penerima, bukan berarti Anda tidak miskin. Bisa jadi data Anda belum masuk atau sudah tergeser oleh keluarga lain yang lebih membutuhkan. Segera lakukan usulan melalui pemerintah desa/kelurahan atau dinas sosial setempat .

4. SUARA DARI PASAR: KETIKA BANSOS BERDAMPAK PADA PEDAGANG KECIL

Setiap kebijakan selalu memiliki dua sisi. Di balik niat mulia membantu 35 juta keluarga miskin, program bansos beras dan minyak goreng ini ternyata menuai keluhan dari pedagang beras di pasar tradisional.

Nano (30), pedagang beras di Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan, mengaku pendapatannya turun hingga 40 persen setiap kali bantuan pangan pemerintah dikucurkan .

"Kalau lagi datang apa itu, bantuan pangan, bantuan pangan itu beras kan ada yang dapat banyak, yang biasanya tiap bulan beli misalkan 20 liter, setelah dapat itu paling beli 5 liter. Jadi berkurangnya banyak. Misalkan biasanya kita dapat sepuluh juta, bisa dapat enam juta per hari," ungkap Nano .

Ia menirukan keluhan para ibu rumah tangga yang menjadi langganannya: "Emak-emak kalau dapat bansos kan banyak, 'masih ada Mas beli buat campuran saja' kan gitu."

Pedagang lain, Timan (45) , menilai bansos pangan belum menyentuh akar persoalan kemiskinan. Ia berharap pemerintah lebih fokus pada penyediaan lapangan kerja ketimbang bansos konsumtif.

"Jadi kalau dikasih kerjaan kan otomatis ekonomi jadi berjalan gitu. Kalau dikasih bansos bantuan berupa uang tuh bukan memecahkan solusi malah bikin masalah," ujar Timan .

Usulan dari pedagang: Bantuan sebaiknya diberikan dalam bentuk uang tunai, bukan barang. Dengan begitu, masyarakat tetap berbelanja di pasar, perputaran uang tetap terjadi, dan pedagang kecil tidak kehilangan pelanggan.

"Biar berputar uangnya," kata Nano .

Perspektif ini penting untuk dicermati pembuat kebijakan. Bansos pangan memang menolong penerima, tetapi berpotensi mematikan usaha mikro di sektor perdagangan. Ekonomi tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi; ada mata rantai yang harus dijaga.

5. TATA KELOLA DAN TANTANGAN LOGISTIK

Dengan target raksasa 35,04 juta KPM dan anggaran Rp11,92 triliun, tantangan terbesar bukan pada ketersediaan anggaran, melainkan pada ketepatan distribusi.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf telah diinstruksikan Menko Airlangga untuk memastikan kelancaran logistik. Penyaluran dilakukan melalui dua kanal: transfer rekening bank dan PT Pos Indonesia (Persero) .

Tantangan yang dihadapi:

1. Luasnya Geografi: Menjangkau 35 juta keluarga di 514 kabupaten/kota, dari perkotaan padat hingga pedalaman dan pulau terluar.
2. Akurasi Data: Memastikan beras dan minyak sampai ke tangan Desil 1-4, bukan ke rumah pejabat atau keluarga mampu.
3. Ketepatan Waktu: Bantuan harus cair sebelum Ramadan agar manfaat maksimal untuk persiapan puasa.
4. Kualitas Komoditas: Beras harus layak konsumsi, minyak goreng harus bersertifikat SNI dan tidak kadaluarsa.

Gus Ipul membuka ruang partisipasi publik seluas-luasnya untuk memutakhirkan data melalui mekanisme "Usul Sanggah" dengan dua jalur :

Jalur Formal Berjenjang:
RT/RW → Kelurahan/Desa → Dinas Sosial → Bupati/Wali Kota → BPS → Kemensos

Jalur Partisipasi Langsung:

1. Command Center Kemensos: 021-171 (24 jam)
2. WhatsApp Center Kemensos: (nomor tersedia di laman resmi)
3. Aplikasi Cek Bansos: Fitur "Usul" dan "Sanggah"

"Kami mengundang masyarakat untuk ikut memberikan usul maupun sanggah terhadap data-data penerima bansos. Nanti akan kami serahkan sepenuhnya kepada BPS untuk dilakukan verifikasi dan validasi," ungkap Gus Ipul .

6. MENGAPA RAMADAN MENJADI MOMEN STRATEGIS BANSOS?

Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga bulan sensitif ekonomi. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi musiman selalu terjadi selama Ramadan-Idulfitri akibat lonjakan permintaan pangan .

Mengapa bansos harus cair sebelum Ramadan?

Pertama, mencegah penurunan konsumsi. Keluarga miskin cenderung mengurangi porsi makan atau mengutamakan membeli kebutuhan non-pangan jika harga naik. Bansos menjaga asupan gizi tetap terpenuhi.

Kedua, menjaga martabat. Ramadan adalah bulan berbagi. Alih-alih bergantung pada sedekah, masyarakat miskin tetap bisa memasak di dapur mereka sendiri dengan beras dan minyak dari negara.

Ketiga, efek psikologis. Menjelang Lebaran, kebutuhan membengkak: baju baru, THR, makanan untuk tamu. Bansos meringankan beban psikis kepala keluarga yang khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan hari raya.

Pola penyaluran bansos Ramadan umumnya terbagi dua skema: pencairan sebelum puasa untuk persiapan ibadah, dan pencairan mendekati Lebaran untuk kebutuhan Hari Raya. Pemerintah biasanya menyesuaikan dengan kondisi fiskal dan dinamika harga pasar .

7. EPILOG: DARI BERAS DAN MINYAK MENUJU KEMANDIRIAN

Program bansos beras 10 kg dan minyak 2 liter untuk 35 juta keluarga adalah manifestasi kehadiran negara di dapur rakyat. Di tengah gejolak harga pangan global dan tekanan inflasi domestik, negara tidak tinggal diam.

Namun, bansos bukanlah akhir, melainkan jalan tengah. Cita-cita besar pembangunan nasional bukanlah menciptakan 35 juta keluarga penerima bansos selamanya, melainkan mentransformasi mereka menjadi keluarga mandiri yang tidak lagi bergantung pada bantuan.

Pemerintah telah memulai dengan program graduasi bansos: 77 ribu KPM naik kelas pada 2025, ditargetkan 300 ribu pada 2026. Mereka yang lulus dari bansos tidak dilepas begitu saja, tetapi diberdayakan melalui pelatihan kerja, bantuan modal UMKM, dan pendampingan usaha

Kritik dari pedagang pasar juga menjadi bahan evaluasi berharga. Mungkin sudah waktunya pemerintah tidak hanya memikirkan supply side (penyediaan barang murah), tetapi juga demand side (daya beli) dan circulation side (perputaran uang di masyarakat). Bantuan tunai dengan syarat tertentu bisa menjadi alternatif di masa depan.

Yang terpenting, akurasi data adalah kunci segalanya. Setiap rupiah uang negara, setiap butir beras, setiap tetes minyak goreng harus sampai ke tangan yang berhak. Inilah ikhtiar besar Kementerian Sosial, BPS, dan seluruh jajaran pemerintah daerah: menyempurnakan data, memastikan keadilan.

Mari kita kawal bersama. Karena bansos yang tepat sasaran bukan hanya soal angka dan anggaran, tetapi soal harga diri dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tags

Terkini