Jakarta, Indoindikator.com – Menindaklanjuti komitmen kedua kepala negara, Presiden Republik Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, untuk memperkuat kerja sama bilateral di bidang strategis, Presiden Direktur Pusat Kerja Sama Internasional dalam Penelitian Pertanian untuk Pembangunan (Centre de coopération internationale en recherche agronomique pour le développement / CIRAD), Ibu Elisabeth Claverie de Saint Martin, melakukan kunjungan kerja ke Indonesia pada 2-5 Februari 2026.
Kunjungan ini memiliki makna strategis, mengingat tahun 2026 juga dideklarasikan sebagai Tahun Inovasi Prancis-Indonesia. Kehadiran pimpinan lembaga penelitian pertanian Prancis terkemuka ini menandai fase baru dalam kemitraan kedua negara, khususnya dalam menyikapi tantangan global seperti ketahanan pangan, perubahan iklim, dan transisi menuju sistem pertanian berkelanjutan.
CIRAD, yang berpusat di Montpellier, Prancis, adalah organisasi penelitian ilmiah publik yang secara khusus berfokus pada tantangan pertanian di wilayah tropis dan subtropis. Dengan jaringan global dan keahlian di bidang agronomi, ekologi, dan ilmu sosial, CIRAD telah menjadi mitra penting bagi Indonesia dalam berbagai proyek, seperti pengembangan agroekologi, peremajaan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan, kesehatan hewan (termasuk pencegahan zoonosis), dan pengelolaan hutan.
“Kunjungan Ibu Elisabeth Claverie de Saint Martin merupakan momentum penting untuk mengakselerasi kerja sama riset dan inovasi yang konkret, sesuai dengan arahan Presiden Macron dan Presiden Prabowo. Fokusnya adalah menciptakan solusi yang berdampak langsung bagi petani dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia,” ujar pernyataan resmi dari Kedutaan Besar Prancis di Jakarta.
Agenda Utama: Dari Kebijakan hingga Lapangan
Selama empat hari di Indonesia, Ibu Elisabeth Claverie de Saint Martin dijadwalkan mengadakan serangkaian pertemuan tingkat tinggi dengan para pemangku kepentingan kunci. Agenda tersebut mencakup:
· Pertemuan dengan Kementerian/Lembaga RI: Dialog dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk menyelaraskan agenda penelitian dengan prioritas pembangunan nasional.
· Kolaborasi dengan Komunitas Ilmiah: Kunjungan ke sejumlah universitas dan pusat riset ternama di Indonesia (seperti IPB University, Universitas Gadjah Mada, dan kantor pusat BRIN) untuk memperkuat jaringan peneliti dan menginisiasi program pertukaran ilmiah.
· Tinjauan Proyek Lapangan: Kunjungan ke lokasi proyek-proyek percontohan yang didukung atau berpotensi dikolaborasikan dengan CIRAD di Indonesia, untuk melihat langsung penerapan inovasi di lapangan.
Diharapkan kunjungan ini akan menghasilkan sebutir kesepakatan baru atau perpanjangan kerja sama yang lebih mendalam, khususnya dalam pengembangan varietas tanaman tahan iklim, praktik pertanian presisi, dan bio-ekonomi.
Sinergi untuk Masa Depan Pertanian Tropis
Kolaborasi Indonesia dan Prancis melalui CIRAD bukan hanya tentang transfer teknologi, tetapi juga pembangunan kapasitas sumber daya manusia. Ratusan peneliti dan mahasiswa Indonesia telah berkesempatan untuk terlibat dalam program pelatihan dan riset bersama di Prancis dan di stasiun penelitian CIRAD di berbagai negara.
Dengan visi yang selaras untuk mencapai kedaulatan pangan dan pembangunan rendah karbon, kemitraan Indonesia-CIRAD di bawah kepemimpinan Ibu Elisabeth Claverie de Saint Martin diproyeksikan akan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai laboratorium hidup bagi inovasi pertanian berkelanjutan skala global.
Baca juga;
Dibeli Online dengan Dalih Ekstrakurikuler, Bom Rakitan ABH SMAN 72 Jakarta Sampai di Tangan Ortu