BATU, Indoindikator.com — Kota Batu yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Jawa Timur kembali bergeliat. Kali ini, geliatnya bukan karena liburan sekolah atau long weekend, melainkan karena ajang olahraga terbesar dunia: Piala Dunia 2026.
Sejumlah hotel dan restoran di kota apel ini mulai menyiapkan kegiatan nonton bareng (nobar) untuk menyambut pesta sepak bola yang digelar di Amerika Utara tersebut. Bagi pelaku usaha hospitality, momen ini adalah peluang emas untuk mendongkrak pendapatan di tengah tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, mengonfirmasi hal ini saat ditemui di tempat kerjanya, Kamis (21/5/2026). Menurutnya, meskipun tidak semua hotel dan resto ikut serta, sebagian mulai memanfaatkan momentum ini.
"Memang tidak semua, hanya sebagian hotel atau resto yang melakukan kegiatan nobar. Karena biasa saja, ketika ada momen apa pun dimaksimalkan. Hal yang wajar bagi pelaku usaha," ujar Sujud.
Momen Besar, Peluang Besar
Bagi Sujud, Piala Dunia bukan sekadar ajang olahraga. Ia adalah momentum yang lazim dimanfaatkan oleh pelaku usaha hospitality untuk meningkatkan kunjungan pelanggan.
"Setiap ada momen besar seperti Piala Dunia, biasanya kami lihat ada peningkatan permintaan. Orang ingin menonton bersama teman-temannya di tempat yang nyaman, dengan layar besar, dan tentu saja dengan makanan dan minuman yang enak," jelasnya.
Kota Batu dengan karakteristiknya sebagai kota wisata memiliki keunggulan tersendiri. Pengunjung yang datang untuk berlibur seringkali juga ingin menikmati suasana nobar di hotel atau restoran yang representatif.
"Wisatawan yang menginap di Batu, mereka tidak ingin kehabisan momen. Kalau hotelnya menyediakan nobar, mereka pasti tertarik. Apalagi kalau paketnya menarik, termasuk makanan dan minuman," tambah Sujud.
Tidak Semua Hotel Ikut, Tapi yang Ikut Siap Maksimal
Sujud mengakui bahwa tidak semua hotel di Kota Batu menggelar nobar. Beberapa pertimbangan menjadi alasan, mulai dari kapasitas tempat yang kurang memadai, hingga perhitungan keekonomian yang matang.
"Yang hotel kecil juga males karena tempatnya kurang representatif dan mendukung. Masing-masing properti punya kebijakan sendiri dalam menangkap peluang," ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa tidak semua hotel memiliki ruang yang cukup untuk menampung nobar dengan layar lebar dan sound system yang memadai. Investasi untuk nobar juga tidak sedikit.
"Ada biaya untuk sewa peralatan, untuk promosi, untuk menyiapkan konsumsi. Jadi harus dihitung betul, kira-kira ada nggak pasarnya, ada nggak yang mau bayar untuk nobar," paparnya.
Namun bagi hotel-hotel besar yang memiliki fasilitas memadai, nobar menjadi kegiatan yang menjanjikan. Beberapa di antaranya bahkan sudah mulai menyiapkan paket-paket menarik.
"Mereka yang punya tempat luas dan representatif, biasanya akan maksimal. Mereka bisa menjual tiket masuk atau paket makanan minuman. Minimal Rp50.000 per orang, itu sudah lumayan," katanya.
Pelemahan Rupiah: Ancaman yang Belum Terasa Sepenuhnya
Di sisi lain, pelaku usaha perhotelan dan restoran di Kota Batu juga mulai mencermati pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada Kamis (21/5/2026), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dan cenderung melemah di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS.
Sujud mengakui bahwa dampak pelemahan rupiah belum terasa signifikan bagi pelaku usaha di Kota Batu. Namun, ia menilai kondisi ini berpotensi memengaruhi biaya operasional, terutama untuk bahan baku impor.
"Pastinya harga bahan makanan naik karena sebagian tergantung pada nilai pasar dunia. Belum lagi biaya operasional kendaraan dinas, ini akan memengaruhi biaya produksi kami," katanya.
Ketergantungan pada Produk Impor
Sujud menjelaskan bahwa sebagian kebutuhan industri perhotelan dan restoran masih mengandalkan produk impor. Mulai dari bahan baku makanan tertentu, hingga peralatan dan perlengkapan hotel.
"Terus bahan-bahan yang masih impor karena tidak semua barang itu produk Indonesia. Jadi fluktuasi dolar pasti berdampak pada kenaikan biaya produksi," ujarnya.
Namun ia bersyukur karena dampaknya belum terlalu terasa saat ini. Ia berharap situasi ekonomi segera membaik sehingga tekanan pada sektor hospitality bisa berkurang.
"Tapi belum terasa, semoga saja bisa dikendalikan biar cepat normal lagi," pungkasnya.
Strategi Bertahan di Tengah Ketidakpastian
Meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan, pelaku usaha di Kota Batu tetap optimistis. Mereka terus mencari cara untuk bertahan dan bahkan tumbuh di tengah ketidakpastian.
Nobar Piala Dunia 2026 adalah salah satu strategi jangka pendek yang diharapkan bisa memberikan suntikan likuiditas. Namun strategi jangka panjang tetap diperlukan, terutama untuk mengantisipasi dampak pelemahan rupiah yang mungkin semakin terasa ke depan.
Beberapa hotel mulai melakukan efisiensi operasional, mencari supplier lokal untuk menggantikan produk impor, serta meningkatkan promosi untuk menarik wisatawan domestik yang masih menjadi tulang punggung sektor pariwisata Kota Batu.
Pasar Nobar: Tidak Sebesar yang Dibayangkan
Sujud mengakui bahwa pasar untuk nobar sebenarnya tidak sebesar yang dibayangkan. Tidak semua orang bersedia membayar untuk menonton pertandingan di hotel atau restoran, apalagi di era di mana siaran televisi dan streaming online mudah diakses di rumah.
"Tidak banyak juga orang yang mau bayar untuk nobar. Maka tidak banyak juga hotel yang menyelenggarakan. Pasarnya memang terbatas," jelasnya.
Namun sekecil apa pun peluang, menurut Sujud, tetaplah peluang. Bagi hotel yang memiliki fasilitas memadai dan strategi pemasaran yang tepat, nobar bisa menjadi kegiatan yang menguntungkan.
"Sekecil apapun peluang, itu pasti ada. Yang penting perhitungannya matang, promosinya tepat, dan pelayanannya memuaskan," tegasnya.
Kolaborasi dengan Pengelola Hak Siar
Salah satu tantangan dalam menggelar nobar adalah urusan perizinan terkait hak siar. Hotel atau restoran yang ingin menggelar nobar komersial biasanya harus bekerja sama dengan pemegang hak siar resmi di Indonesia.
"Kalau dulu kan biasanya ada pemegang hak siar. Mereka yang mengatur siapa saja yang boleh menyelenggarakan nobar komersial. Ini harus diurus," kata Sujud.
Beberapa hotel besar biasanya sudah memiliki kerja sama dengan pemegang hak siar atau penyedia layanan televisi berbayar. Sementara hotel kecil mungkin memilih untuk tidak ambil pusing karena biaya dan urusannya yang rumit.
Harapan untuk Ekonomi Kota Batu
Terlepas dari berbagai tantangan, Sujud optimistis bahwa sektor perhotelan dan restoran di Kota Batu akan terus bertahan. Kota Batu sebagai destinasi wisata memiliki daya tarik tersendiri yang tidak akan pernah pudar.
"Batu ini istimewa. Wisatawan selalu datang, apalagi di akhir pekan atau musim liburan. Jadi meskipun ada tekanan ekonomi, kami tetap bisa bertahan," ujarnya.
Ia berharap pemerintah pusat dan daerah terus mendukung sektor pariwisata, termasuk dengan kebijakan yang kondusif bagi pelaku usaha hospitality.
"Kami butuh stabilitas, baik stabilitas keamanan, stabilitas ekonomi, maupun stabilitas nilai tukar. Itu yang akan membuat usaha kami bisa berkembang," pungkasnya.
Penutup: Nobar sebagai Simbol Optimisme
Nobar Piala Dunia 2026 di hotel dan restoran Kota Batu mungkin hanya kegiatan kecil di tengah samudera tantangan ekonomi. Namun ia menjadi simbol bahwa pelaku usaha di kota ini tidak mudah menyerah. Mereka terus berinovasi, terus mencari peluang, dan terus optimistis bahwa masa depan akan lebih baik.
-
Bagi wisatawan yang kebetulan berada di Kota Batu selama gelaran Piala Dunia, menikmati nobar di hotel atau restoran bisa menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Dukungan terhadap usaha lokal juga menjadi bentuk kepedulian terhadap perekonomian daerah.
Selamat menikmati Piala Dunia 2026, dan selamat berusaha bagi seluruh pelaku hospitality di Kota Batu!