• Sabtu, 20 Juni 2026

Rembang Gemilang Mobile: Aplikasi Andalan Smart City Rembang Ternyata Macet Total,

Photo Author
Redaksi, IndoIndikator.com
- Senin, 18 Mei 2026 | 19:25 WIB
Tampilan aplikasi Rembang Gemilang Mobile yang diunduh dari Google Play Store. Fitur-fitur di dalamnya tidak dapat diakses dan hanya menampilkan halaman kosong.
Tampilan aplikasi Rembang Gemilang Mobile yang diunduh dari Google Play Store. Fitur-fitur di dalamnya tidak dapat diakses dan hanya menampilkan halaman kosong.

REMBANG, Indoindikator.com - Rembang yang dikenal sebagai kota kelahiran RA Kartini dan ikon mercusuar yang megah, kini memiliki cerita lain yang tak kalah menarik. Sayangnya, cerita ini bukan tentang kemajuan, melainkan tentang kegagalan sebuah proyek ambisius yang menghabiskan uang rakyat.

Aplikasi Rembang Gemilang Mobile, yang diluncurkan dengan penuh semangat oleh Pemkab Rembang pada tahun 2022, saat ini berada dalam kondisi memprihatinkan. Aplikasi yang diharapkan menjadi tulang punggung Rembang Smart City 2026 ini nyatanya tidak berfungsi alias macet total.

Mimpi Smart City, Realitanya Aplikasi Mati

Masyarakat Rembang yang awalnya antusias dengan kehadiran aplikasi ini kini hanya bisa gigit jari. Setelah diunduh dari Google Play Store, aplikasi tersebut tidak dapat digunakan. Fitur-fitur yang ada hanya menampilkan halaman kosong atau pesan error.

Ali Mustofa, warga Rembang, menyuarakan kekecewaannya. Ia menyoroti tidak adanya manfaat nyata dari aplikasi tersebut sejak diluncurkan hingga saat ini.

"Aplikasi tersebut bahkan tidak pernah melakukan pembaruan (update) apa pun. Kami mempertanyakan transparansi anggaran pembuatannya. Nilai pengadaannya harus diperjelas karena asas manfaatnya tidak ada," ujar Ali Mustofa, Senin (18/5/2026).

Rincian anggaran yang tidak dipublikasikan secara spesifik menjadi salah satu poin yang paling disorot. Masyarakat berhak tahu berapa uang mereka yang telah dihabiskan untuk proyek ini.

Dinkominfo: Ini Program yang Nyaris Tanpa Perkembangan

Kepala Dinkominfo Kabupaten Rembang, Budiyono, secara terbuka mengakui kegagalan ini. Ia menyatakan bahwa sejak awal menjabat, ia mendapati proyek tersebut dalam keadaan terbengkalai.

"Saya berusaha mengidentifikasi pekerjaan jangka pendek, menengah, dan panjang yang hari ini on progress atau nyaris tidak ada update. Salah satunya ya aplikasi ini. Bisa disebut ini program yang nyaris tidak ada perkembangan dari waktu ke waktu," katanya.

Pengakuan jujur dari kepala dinas ini sekaligus mengonfirmasi apa yang selama ini dikeluhkan warga. Proyek yang seharusnya menjadi kebanggaan daerah ini ternyata tidak pernah mendapatkan perhatian yang serius.

Penyebab: Minim Anggaran dan Bukan Prioritas

Budiyono menjelaskan bahwa mandeknya aplikasi ini disebabkan oleh kombinasi faktor klasik. Pertama, minimnya dukungan anggaran. Kedua, kebijakan politik anggaran yang tidak menjadikan program ini sebagai prioritas.

"Dukungan anggaran maupun program, baik dari BAPD (Badan Penasihat Pusat Daerah) atau kebijakan politik anggarannya, memang bukan sesuatu yang menjadi prioritas. Sehingga posisinya teman-teman (di Dinkominfo) mengakui tidak ada pergerakan yang sesuai harapan," imbuhnya.

Artinya, meskipun aplikasi ini digadang-gadang sebagai pilar smart city, faktanya ia hanya menjadi proyek "gimmick" tanpa dukungan serius dari eksekutif dan legislatif daerah.

Loss Komunikasi Jadi Masalah Serius

Selain masalah anggaran, Budiyono juga mengungkapkan adanya loss komunikasi atau putusnya koordinasi antar OPD. Rembang Gemilang Mobile didesain sebagai aplikasi integrator yang menghubungkan layanan dari berbagai OPD.

Namun, karena komunikasi yang terputus, Dinkominfo bahkan tidak tahu apakah aplikasi-aplikasi milik OPD lain masih berfungsi atau tidak.

"Terjadi loss komunikasi. Aplikasi-aplikasi yang sudah kita tanam di sini, kami bahkan tidak tahu apakah di OPD pemilik otoritasnya masih ter-update atau tidak. Ini menjadi bahan evaluasi saya di tahun pertama untuk membongkar kembali kegiatan yang dulu menjadi jargon kita tapi bisa dikatakan stuck (macet)," ujar Budiyono.

Ini menunjukkan bahwa selain masalah teknis dan anggaran, masalah koordinasi horizontal di lingkungan Pemkab Rembang juga sangat buruk. Setiap OPD berjalan sendiri-sendiri tanpa ada sinergi yang jelas.

Janji Perbaikan di 2026, Bisakah Dipercaya?

Meskipun kapasitas APBD Rembang saat ini dinilai belum mumpuni, Dinkominfo mengklaim telah memulai langkah-langkah perbaikan. Sejak dua bulan lalu, mereka mengaku telah menginstruksikan jajarannya untuk melakukan identifikasi dan penyegaran isi sistem.

"Rencananya, baik ada anggarannya atau tidak, paling lambat di tahun 2026 ini paling tidak ada (perubahan) yang terbaru," tegas Budiyono.

Namun, masyarakat tentu berhak skeptis. Janji perbaikan di tahun 2026—yang notabene adalah tahun target smart city—terdengar ironis. Bagaimana mungkin mewujudkan smart city jika aplikasi utamanya baru akan diperbaiki di tahun yang sama?

Misteri Anggaran: Kepala Dinkominfo Lupa Nominalnya

Ketika dikonfirmasi mengenai besaran pasti anggaran yang telah digelontorkan untuk pembuatan aplikasi tersebut, Budiyono memberikan jawaban yang mengejutkan. Ia mengaku lupa.

"Saya lupa angka tepatnya. Yang jelas dulu dibangun oleh pihak ketiga. Kami meminta waktu untuk mencari lagi dokumen kontrak, perjanjian, termasuk Rangka Acuan Kerja (RAK)-nya seperti apa," pungkasnya.

Pernyataan "lupa" ini semakin memantik kemarahan publik. Sebagai kepala dinas yang bertanggung jawab atas proyek tersebut, seharusnya ia memiliki data dan dokumentasi yang jelas.

Kesimpulan: Evaluasi Menyeluruh Diperlukan

Kasus Rembang Gemilang Mobile seharusnya menjadi bahan evaluasi serius bagi Pemkab Rembang. Bukan hanya soal aplikasi yang tidak berfungsi, tapi juga soal tata kelola proyek, transparansi anggaran, koordinasi antar OPD, dan prioritas kebijakan.

Masyarakat Rembang berhak mendapatkan penjelasan. Berapa uang yang telah dihabiskan? Siapa pihak ketiga yang mengerjakan? Mengapa tidak ada evaluasi rutin? Dan yang terpenting: akankah ada sanksi bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan ini?

Tanpa adanya akuntabilitas, proyek serupa akan terus berulang. Uang rakyat akan terus menguap tanpa hasil. Dan Rembang akan terus tertinggal dalam urusan pelayanan publik digital.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

X