Susunan Pengurus Baru KONI Kabupaten Malang
Kabupaten Malang, indoindikator.com – Di tengah sorotan publik pasca kasus korupsi yang menjerat pendahulunya, pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Malang masa bakti 2026-2028 resmi dilantik pada Sabtu (14/3/2026). Momen yang seharusnya menjadi awal kebangkitan olahraga Bumi Arema ini sekaligus menjadi ujian berat bagi pengurus baru untuk mengembalikan kepercayaan publik dan membuktikan bahwa organisasi olahraga bisa bersih dari praktik korupsi.
Prosesi pelantikan yang berlangsung di Pendapa Agung Kabupaten Malang tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Umum KONI Jawa Timur, Muhammad Nabil, dan disaksikan oleh Bupati Malang HM. Sanusi beserta jajaran forkopimda . Sebanyak 39 pengurus baru yang dinahkodai oleh Darmadi resmi mengemban amanat untuk membawa kemajuan olahraga Kabupaten Malang hingga tahun 2028 mendatang .
Pelantikan ini merupakan agenda Pergantian Antar Waktu (PAW) yang digelar menyusul mundurnya ketua lama, RS, pada Desember 2025 lalu setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penyelewengan dana hibah . Dalam Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) pada pertengahan Februari 2026, Darmadi terpilih setelah meraih 40 suara dari 60 pemilik hak suara .
Target Tinggi di Tengah Tantangan Berat
Dalam sambutannya, Bupati Sanusi memberikan target yang tidak ringan kepada pengurus baru. Ia meminta KONI Kabupaten Malang mampu menembus peringkat kedua pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur tahun 2027 mendatang.
"Tujuan utamanya tadi adalah di Porprov menjadi peringkat kedua. Kalau peringkat satu mungkin berat, tapi nomor dua insya Allah bisa asal semangat. Kalau urutan keempat sudah berkali-kali. Kediri saja cuma tiga kecamatan bisa ranking dua. Masa kita 33 kecamatan tetap di ranking empat? Ini harus diperbaiki," tegas Sanusi dengan nada optimistis.
Bupati dua periode itu juga menekankan pentingnya pembenahan manajemen organisasi dan perencanaan pembinaan atlet yang lebih matang. "Semua nanti akan membantu. Tujuannya satu, prestasi. KONI tidak ada artinya kalau tidak ada prestasi," tambahnya .
Sementara itu, Ketua Umum KONI Jatim, Muhammad Nabil, mengingatkan bahwa prestasi olahraga tidak bisa diraih secara instan. "Di olahraga tidak ada yang kebetulan dan tidak bisa seperti membalikkan telapak tangan. Semuanya mesti harus dirancang, ada sport science-nya, itu sebuah keharusan," ujarnya .
Menanggapi amanah tersebut, Ketua KONI Kabupaten Malang yang baru, Darmadi, berkomitmen untuk segera bekerja. Ia berencana menggelar rapat kerja dan memetakan cabang olahraga berprestasi sebagai langkah awal kepengurusannya. "Kami akan fokus pada pembinaan atlet dari semua tingkatan usia melalui pembinaan yang sistematis agar bakat dan talenta atlet bisa dimaksimalkan," jelas Darmadi .
Yang menarik, Darmadi juga berjanji akan membenahi tata kelola organisasi agar lebih transparan dan akuntabel. "Kami ingin menjadikan KONI sebagai rumah besar dan kawah candradimuka olahraga yang mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi bagi Kabupaten Malang," tegasnya .
Komentar LIRA: Momentum Membangun Kembali Etika Olahraga
Menanggapi pelantikan tersebut, Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten Malang menyampaikan pandangannya secara eksklusif kepada awak media. Menurutnya, pelantikan ini bukan sekadar seremonial pergantian kepengurusan, melainkan momentum penting untuk merefleksikan kembali makna terdalam dari olahraga itu sendiri.
Olahraga Bukan Sekadar Aktivitas Fisik
"Kita perlu memahami bahwa olahraga bukan sekadar aktivitas fisik semata. Dalam kajian filsafat ilmu keolahragaan, olahraga merupakan fenomena multidimensi yang memiliki akar filosofis sangat kuat—meliputi ontologi tentang hakikat gerak manusia, epistemologi tentang bagaimana olahraga dipahami dan dipelajari, serta aksiologi yang berbicara tentang nilai-nilai etika di dalamnya," ujarnya .
Ia menegaskan bahwa filosofi olahraga mencakup pembentukan karakter, sportivitas, kejujuran, kerja sama, dan persatuan. Semua nilai luhur ini bertujuan meningkatkan kualitas hidup manusia, baik jasmani maupun rohani. Sebuah kajian akademis dari Universitas Negeri Semarang bahkan mengungkapkan bahwa di era digital saat ini, terjadi krisis aksiologi di mana motivasi intrinsik atlet sering tergeser oleh orientasi ekstrinsik seperti popularitas dan pencitraan .
"Sayangnya," lanjutnya, "apa yang terjadi di KONI Kabupaten Malang beberapa waktu lalu justru bertolak belakang dengan nilai-nilai luhur tersebut. Alih-alih menjadi ruang pembentukan karakter, oknum pengurus malah menjadikan organisasi olahraga sebagai ladang korupsi."
Belajar dari Sejarah: Olahraga sebagai Penjaga Patriotisme
Nizar mengajak publik untuk merenungkan sejarah panjang peradaban manusia, di mana olahraga selalu menjadi penjaga nilai patriotisme. "Sejarah mencatat bahwa bahkan pada saat negara terpuruk sekalipun, olahraga hadir sebagai pemersatu. Bangsa Romawi kuno membangun Colosseum sebagai simbol kekuatan dan identitas, lengkap dengan para gladiator yang menjadi pahlawan rakyat," paparnya.
Ia juga menyebut tradisi luhur Nusantara, di mana pada masa akhir Majapahit, parade gulat musiman di pesisir Tuban menjadi perekat sosial dan hiburan rakyat di tengah gejolak politik. "Bahkan cita-cita Olimpiade Ganevo pun lahir dari semangat perdamaian. Piagam Olimpiade dengan tegas menyebut perdamaian sebagai misi utamanya," tambahnya.
Menurutnya, kontras dengan sejarah kegemilangan tersebut, kasus korupsi di tubuh KONI Kabupaten Malang justru mencoreng wajah olahraga sebagai perekat bangsa.
Fair Play dan Kejujuran: Fondasi Sikap Dewasa
"Olahraga harusnya menjadi ajang melatih perilaku fair play dan kejujuran sebagai sikap dewasa menghadapi masalah. Bukan ajang memupuk haus citra diri dengan menghalalkan segala cara demi menjadi juara," tegas Nizar dengan nada tinggi.
Pernyataan ini sejalan dengan kajian filosofis tentang sportivitas yang menekankan integritas sebagai fondasi utama. Sebuah artikel dari Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Polewali Mandar menyebutkan bahwa sportivitas mengajarkan para pemain untuk menghormati wasit, rekan satu tim, dan pihak lawan. Integritas dalam olahraga terlihat dari bagaimana seorang atlet bermain dengan jujur dan mengikuti aturan, tidak hanya berfokus pada kemenangan tetapi juga pada cara mencapai kemenangan tersebut .
"Jika pengurusnya saja sudah korup," lanjutnya, "bagaimana mungkin kita berharap atlet-atlet kita tumbuh dengan jiwa sportivitas yang tinggi? Mereka akan belajar bahwa menghalalkan segala cara adalah sesuatu yang wajar, padahal itu sama sekali keliru."
Menolak Kapitalisme dalam Olahraga
Lebih jauh, Kabid LIRA menyoroti bahaya orientasi kapitalistik dalam dunia olahraga. "Olahraga tentu menuntut adanya pengorbanan diri, berlatih jiwa dan raga untuk menjadi dewasa. Mestinya olahraga jauh dari perilaku egois, apalagi kapitalistik dalam arti berperspektif hanya mencari untung dari olahraga sampai rela korupsi," ujarnya.
Ia merujuk pada keprihatinan yang pernah disampaikan oleh Paus Leo XIV dalam pertemuannya dengan klub sepak bola Napoli. Paus kala itu menegaskan bahwa ketika olahraga berubah menjadi industri bernilai miliaran, perhatian mulai bergeser. Kompetisi menjadi semata-mata soal uang, ketenaran, dan kesuksesan pribadi. Dalam konteks ini, olahraga bisa kehilangan jiwanya sebagai alat pembentuk manusia yang utuh .
"Para atlet kita," lanjut Nizar, "rela berlatih keras pagi-pagi buta, luka dan cedera adalah makanan sehari-hari. Mereka berkorban demi nama baik daerah. Sungguh ironis jika pengorbanan itu dikhianati oleh oknum pengurus yang hanya berpikir bagaimana mengeruk keuntungan pribadi dari dana hibah yang seharusnya untuk pembinaan."
Membangun Jiwa Anti Korupsi dari Semangat Olahraga
Menurut Nizar, dari semangat olahraga sejatinya jiwa anti korupsi harus dibangun. "Rela berkorban, fair play, dan perilaku serta sifat koruptif harus dibongkar. Ini bukan sekadar slogan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata," tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa kasus korupsi di KONI Kabupaten Malang yang melibatkan mantan Ketua RS dan mantan Bendahara BY dengan total kerugian negara mencapai Rp542 juta seharusnya menjadi pelajaran berharga. Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang bahkan telah menggeledah kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) untuk mencocokkan dokumen asli dengan temuan-temuan yang ada .
"Perkara korupsi di KONI Kabupaten Malang ini harusnya jangan sampai terjadi. Tapi karena sudah terlanjur terjadi, maka untuk agar tidak lagi terjadi di masa depan, perkara yang sudah ada harus dibongkar sampai tuntas," desaknya.
Ia juga menyampaikan himbauan tegas kepada aparat penegak hukum. "Kami dari LIRA mengimbau kepada aparat penegak hukum untuk menyelesaikan perkara ini sampai tuntas. Ingat, rakyat memiliki harapan dan akan setia mengawasi prosesnya. Jangan sampai ada upaya menghalang-halangi proses hukum atau melindungi pihak-pihak tertentu," ujarnya penuh penekanan.
Pesan Damai dari Piagam Olimpiade
Menutup pernyataannya, Kabid LIRA mengingatkan tentang nilai universal yang terkandung dalam Piagam Olimpiade. "Piagam Olimpiade salah satunya berbicara tentang perdamaian. Olahraga adalah bahasa universal yang menyatukan, bukan memecah belah apalagi menjadi ladang korupsi segelintir orang," pungkasnya.
Ia berharap pengurus KONI yang baru dilantik dapat mengemban amanah dengan sebaik-baiknya, menjauhkan diri dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta benar-benar fokus pada pembinaan atlet dan peningkatan prestasi olahraga Kabupaten Malang.
Publik Kabupaten Malang tentu berharap banyak kepada kepengurusan baru ini. Setelah diterpa badai korupsi yang mencoreng nama baik dunia olahraga, saatnya KONI Kabupaten Malang bangkit dan kembali pada fitrahnya: sebagai wahana pembentukan karakter, pemersatu bangsa, dan medan juang yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, sportivitas, dan perdamaian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Editor: Redaksi
Terkini
Sabtu, 20 Juni 2026 | 12:50 WIB
Sabtu, 20 Juni 2026 | 11:43 WIB
Sabtu, 20 Juni 2026 | 11:27 WIB
Jumat, 19 Juni 2026 | 12:42 WIB
Kamis, 18 Juni 2026 | 22:55 WIB
Kamis, 18 Juni 2026 | 21:56 WIB
Kamis, 18 Juni 2026 | 21:06 WIB
Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:00 WIB
Jumat, 12 Juni 2026 | 19:49 WIB
Jumat, 12 Juni 2026 | 16:33 WIB
Jumat, 12 Juni 2026 | 16:02 WIB
Kamis, 11 Juni 2026 | 15:03 WIB
Kamis, 11 Juni 2026 | 14:29 WIB
Kamis, 11 Juni 2026 | 13:51 WIB
Rabu, 10 Juni 2026 | 07:34 WIB
Selasa, 9 Juni 2026 | 14:39 WIB
Senin, 8 Juni 2026 | 13:02 WIB
Senin, 8 Juni 2026 | 06:57 WIB
Minggu, 7 Juni 2026 | 12:48 WIB
Minggu, 7 Juni 2026 | 12:07 WIB