• Sabtu, 20 Juni 2026

IHSG Ambruk 5,91%, Rupiah Terperosok ke Rp17.000: Darurat Ekonomi di Tengah Badai Global

Photo Author
Redaksi, IndoIndikator.com
- Senin, 16 Maret 2026 | 14:47 WIB
Grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan 9-13 Maret 2026 yang menunjukkan penurunan tajam 5,91% ke level 7.137,21. Ini merupakan koreksi mingguan terdalam di Asia Tenggara dan mengakibatkan kapitalisasi pasar BEI susut Rp949 triliun.
Grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan 9-13 Maret 2026 yang menunjukkan penurunan tajam 5,91% ke level 7.137,21. Ini merupakan koreksi mingguan terdalam di Asia Tenggara dan mengakibatkan kapitalisasi pasar BEI susut Rp949 triliun.

JAKARTA, 16 Maret 2026Indoindikator.com – Pasar keuangan Indonesia mengalami guncangan hebat sepanjang pekan 9-13 Maret 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan mingguan terdalam di Asia Tenggara, ambruk 5,91% atau 448 poin ke level 7.137,21 pada penutupan Jumat (13/3). Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) pun susut Rp949 triliun dalam sepekan .

Tak hanya saham, nilai tukar rupiah juga tertekan hebat hingga sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS pada Rabu (11/3). Meski akhirnya ditutup di level Rp16.960 pada Jumat, pelemahan ini memicu kekhawatiran akan terjadinya imported inflation yang dapat melumpuhkan daya beli masyarakat .

Analis ekonomi politik pasar saham, Kusfiardi, menegaskan bahwa koreksi ini merupakan realisasi dari risiko sistemik yang telah lama diwanti-wanti. "Ini adalah perfect storm: kombinasi geopolitical contagion di Selat Hormuz, revisi outlook Fitch menjadi negatif, dan tekanan rupiah yang luar biasa," ujarnya.

Dinamika Rupiah: Tembus Batas Psikologis

Sepanjang pekan lalu, rupiah menunjukkan volatilitas ekstrem. Awal pekan (9-10 Maret), rupiah masih bertahan di level Rp16.820, namun tekanan eskalasi Selat Hormuz dan revisi outlook Fitch membuatnya merosot ke Rp16.910 pada Selasa. Puncaknya terjadi pada Rabu (11/3) ketika rupiah mencatat level terendah intraday di Rp17.015 .

"Tembusnya Rp17.000 adalah alarm bagi kita semua. Secara ekonomi politik, ini memicu kekhawatiran imported inflation yang bisa melumpuhkan sektor riil," jelas Kusfiardi.

Intervensi otoritas moneter berhasil membawa rupiah kembali ke level Rp16.985 pada Kamis, dan ditutup di Rp16.960 pada Jumat. Namun, posisi ini masih jauh dari zona aman. "Posisi penutupan di Rp16.960 adalah 'pesan' dari pasar bahwa kepercayaan terhadap stabilitas makroekonomi sedang diuji," tambahnya .

IHSG Berdarah-darah, Asing Kabur Rp1,57 Triliun

Sepanjang pekan lalu, investor asing mencatat aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp1,57 triliun di seluruh pasar . Tekanan jual terbesar menghantam saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang menekan indeks sebesar 25,15 poin, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 17,86 poin, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebesar 23,14 poin .

Saham sektor energi juga tak luput dari tekanan, meski secara terbatas masih ada aksi beli asing di sejumlah saham batubara seperti ITMG, ADRO, dan PTBA . Namun secara umum, mayoritas sektor mengalami koreksi dalam.

Dari 629 saham yang diperdagangkan, sebanyak 620 saham tercatat mengalami penurunan harga lebih dari 2%, sementara hanya 81 saham yang berhasil mencatat kenaikan . Volume perdagangan juga menyusut signifikan, mencerminkan tingginya ketidakpastian di kalangan investor.

Dua Faktor Pemicu: Geopolitik dan Fiskal

Kusfiardi mengidentifikasi dua faktor utama yang memicu koreksi tajam ini. Pertama, eskalasi konflik di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menyentuh US$113 per barel. Sebagai negara importir minyak, Indonesia menghadapi ancaman pembengkakan subsidi energi yang dapat mengganggu stabilitas APBN .

Kedua, revisi outlook peringkat utang Indonesia oleh Fitch Ratings dari stabil menjadi negatif pada awal Maret lalu. Fitch mengkhawatirkan potensi pelebaran defisit anggaran, terutama jika harga minyak terus melambung . "Ini adalah contagion effect yang menular ke seluruh rantai pasok dan daya beli masyarakat," tegas Kusfiardi.

Strategi Bertahan di Tengah Badai

Menghadapi volatilitas yang masih tinggi, Kusfiardi merekomendasikan strategi investasi defensif. Pertama, tingkatkan rasio kas minimal 40% dalam portofolio untuk fleksibilitas. Kedua, prioritaskan sektor defensif seperti energi (PERT, MEDC) dan konsumer primer (UNVR, ICBP). Ketiga, kurangi eksposur pada sektor sensitif seperti properti, konstruksi, dan transportasi yang rentan terhadap fluktuasi suku bunga dan pelemahan rupiah. Keempat, diversifikasi ke aset safe haven seperti obligasi pemerintah dan emas fisik.

"Pekan ini adalah ujian penting. Jika level support IHSG di 7.000–7.100 mampu bertahan, kita bisa mengharapkan rebound terbatas. Namun, prioritas utama tetap mitigasi risiko terhadap kemungkinan breakout kembali ke atas Rp17.000 yang dapat mengancam stabilitas APBN," pungkas Kusfiardi.

Pemerintah sendiri melalui Menteri Keuangan telah menyatakan kesiapan untuk menyesuaikan belanja negara jika harga minyak terus melonjak. Tanpa penyesuaian, defisit berpotensi melebar hingga sekitar 3,6% PDB . Sementara itu, OJK memastikan fundamental perbankan tetap solid meski ada tekanan eksternal .

Baca juga;

Sidang Perdana CLS LIRA vs Bupati Malang Digelar 1 April 2026, LIRA Siapkan Gugatan Jilid II Libatkan Kejaksaan dan Kepolisian

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

X