• Sabtu, 20 Juni 2026

Tadarus Cinta di Makara Art Center UI: Rocky Gerung Sindir Kasus LPDP

Photo Author
Redaksi, IndoIndikator.com
- Minggu, 1 Maret 2026 | 13:56 WIB
Filsuf Rocky Gerung (kanan) menyampaikan pandangannya tentang makna cinta dan patriotisme dalam forum Tadarus Cinta di UI. Ia menyindir kasus mahasiswa penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, yang ramai dihujat warganet terkait narasi nasionalisme.
Filsuf Rocky Gerung (kanan) menyampaikan pandangannya tentang makna cinta dan patriotisme dalam forum Tadarus Cinta di UI. Ia menyindir kasus mahasiswa penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, yang ramai dihujat warganet terkait narasi nasionalisme.

DEPOK, Indoindikator.com – Suasana penuh kehangatan spiritual menyelimuti Makara Art Center Universitas Indonesia pada Jumat malam (27/2/2026). Direktorat Kebudayaan UI bekerja sama dengan Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia menggelar Majelis Nyala Purnama #10 dengan tema besar "Rahmatan Lil Alamin (Cinta Kasih Terhadap Semua)" yang dikemas dalam acara bertajuk "Tadarus Cinta: Cinta Kasih Terhadap Semua".

Acara yang berlangsung di bulan suci Ramadan ini menghadirkan perpaduan seni, budaya, dan spiritualitas yang unik. Berbagai bentuk kegiatan digelar untuk menyemarakkan bulan penuh berkah, mulai dari orasi budaya, musik, tari, pembacaan puisi, hingga meditasi bersama. Para pengisi acara yang hadir antara lain Dr. Ngatawi Al Zastrouw, Dr. Turita Indah Setyani, Drs. Raymond Michael Menot, Rocky Gerung, Dwi Woro Retno Mastuti M.Hum, Fitra Manan, Swara SeadaNya, dan Yogie Sany.

-
Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia Dr. Ngatawi Al Zastrouw memberikan orasi budaya dalam acara Majelis Nyala Purnama #10 dengan tema "Tadarus Cinta: Cinta Kasih Terhadap Semua" di Makara Art Center UI, Jumat (27/2/2026) malam. Acara ini digelar dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadan.

Ratusan peserta dari berbagai kalangan memadati ruangan utama Makara Art Center. Mereka duduk melingkar, menciptakan suasana intim dan kebersamaan yang kuat. Lampu-lampu temaram dan hiasan bernuansa Ramadan menambah kekhusyukan malam itu.

Dr. Ngatawi Al Zastrouw: Cinta Adalah Hak Semua Manusia

Membuka acara, Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia Dr. Ngatawi Al Zastrouw menyampaikan orasi budaya yang menggugah. Ia menegaskan bahwa cinta adalah fitrah kemanusiaan yang harus dijaga dan dirawat, bukan justru disalahgunakan untuk hal-hal destruktif.

"Cinta adalah hak semua manusia, dan oleh karena itu setiap upaya membunuh dan mengabaikan cinta harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Saat ini kita melihat maraknya penyalahgunaan cinta. Atas nama cinta orang mencaci, membenci bahkan saling menista sesamanya. Melalui Majelis Nyala Purnama kita ingin berbagi cinta untuk semua. Menebar cinta yang menyehatkan jiwa dan raga, cinta yang membahagiakan lahir dan batin," ujar Ngatawi dengan penuh semangat.

Menurutnya, bulan Ramadan adalah momentum tepat untuk merefleksikan kembali makna cinta yang sesungguhnya. Bukan cinta yang eksklusif dan diskriminatif, tetapi cinta yang inklusif dan menyejukkan.

Fitra Manan: Tadarus Cinta sebagai Ibadah Sosial Tertinggi

Ketua Komoenitas Makara, Fitra Manan, memberikan perspektif menarik tentang konsep "tadarus cinta". Ia menjelaskan bahwa tadarus biasanya identik dengan membaca Al-Qur'an, namun kali ini dikontekstualisasikan sebagai upaya membaca dan menghayati makna cinta dalam kehidupan sehari-hari.

"Tadarus cinta adalah sebuah dialektika hati di mana kita tidak hanya membaca lembaran kasih sayang, tetapi juga menghayati setiap denyut kepedulian bagi sesama tanpa memandang kasta atau rupa. Dalam setiap bait interaksinya, terkandung semangat untuk menyebarkan kehangatan yang inklusif, mengubah perbedaan menjadi harmoni, dan menjadikan kasih sebagai bahasa universal yang menyatukan jiwa-jiwa yang haus akan kedamaian. Mencintai semua adalah bentuk ibadah sosial tertinggi, sebuah perayaan kemanusiaan yang memastikan bahwa tak ada satu pun hati yang dibiarkan dingin dalam kesendirian," papar Fitra dengan lugas.

Dwi Woro Retno Mastuti: Cinta pada Wayang Potehi Membawa Keliling Dunia

Sesi berikutnya diisi oleh Dwi Woro Retno Mastuti, penggiat budaya yang dikenal dengan kecintaannya pada wayang potehi. Dalam forum ini, ia banyak menyampaikan testimoni tentang perjalanan hidupnya merawat kecintaan pada kesenian wayang potehi yang berasal dari tradisi Tionghoa namun telah berakulturasi dengan budaya Jawa.

Menurut Woro, panggilan cinta pada wayang potehi datang dengan cara yang tidak terduga. Ia rela menelusuri dan meneliti potehi sampai ke beberapa belahan dunia, seperti Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat, dengan modal yang sangat minim. Namun secara ajaib, semua perjalanannya bisa terlaksana.

"Cara Tuhan menganugerahkan rasa cinta tersebut sungguh di luar kebiasaan. Saking cintanya, saya rela ke mana pun untuk menelusuri jejak wayang potehi. Sampai sekarang saya sendiri kadang tidak percaya bisa melakukan semua perjalanan itu dengan duit yang pas-pasan. Tapi selalu ada jalan," ujar Woro dengan mata berbinar.

Kisah Woro menjadi inspirasi bagi peserta tentang bagaimana cinta pada budaya bisa menjadi kekuatan dahsyat yang menggerakkan kehidupan.

Raymond Michael Menot: Cinta dalam Perspektif Antropologi Budaya

Sementara itu, Drs. Raymond Michael Menot, akademisi di bidang antropologi budaya, membahas makna cinta dari perspektif keilmuannya. Ia menjelaskan bahwa konsep cinta dalam berbagai budaya memiliki ekspresi yang berbeda-beda, namun esensinya sama: penghargaan terhadap sesama manusia.

"Dalam antropologi, kita melihat bagaimana masyarakat mengkonstruksi makna cinta melalui ritual, tradisi, dan bahasa. Yang menarik, di tengah modernitas justru sering terjadi kekeringan makna cinta. Orang sibuk dengan gawai, tapi lupa menyapa tetangga. Maka acara seperti ini penting untuk mengingatkan kita pada esensi kemanusiaan," jelas Raymond.

Rocky Gerung: Beda Nasionalisme dan Patriotisme, Sindir Kasus LPDP

Puncak acara diwarnai dengan orasi dari filsuf kontroversial Rocky Gerung. Dengan gaya khasnya yang lugas dan tajam, Rocky membedah makna cinta dalam konteks kebangsaan, terutama tentang patriotisme.

Rocky menyindir kasus mahasiswa penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, yang ramai dihujat warganet dengan narasi tidak punya rasa nasionalisme dan tidak cinta tanah air. Menurut Rocky, tuduhan tersebut keliru karena mencampuradukkan konsep nasionalisme dan patriotisme.

"Dwi Sasetyaningtyas bukan tidak punya rasa nasionalisme, melainkan tidak punya jiwa patriotisme. Nasionalisme adalah kesadaran berbangsa, sementara patriotisme adalah keberanian untuk membela bangsa. Dua hal yang berbeda," tegas Rocky.

Ia menjelaskan bahwa seseorang bisa saja memiliki nasionalisme tanpa harus menjadi patriot, dan sebaliknya. Rocky menilai bahwa hujatan terhadap Dwi menunjukkan kegagalan publik dalam memahami konsep-konsep dasar kebangsaan.

"Kita ini sering latah, mudah menghakimi tanpa memahami konteks. Padahal, cinta tanah air bisa diekspresikan dengan berbagai cara. Tidak harus selalu dengan cara yang sama," tambahnya.

Pernyataan Rocky ini mendapat respons beragam dari peserta. Sebagian mengangguk setuju, sebagian lainnya terlihat merenung mencerna argumen yang disampaikan.

Meditasi Bersama Dr. Turita Indah Setyani

Memasuki penghujung acara, pendiri Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani memimpin sesi meditasi bersama. Suasana hening dan khidmat menyelimuti ruangan saat peserta diajak untuk menutup mata, mengatur napas, dan merenungkan makna cinta kasih.

"Pada malam yang penuh keberkahan ini, kita berkumpul dalam lingkaran Meditasi dalam kegiatan Tadarus Cinta dengan tema 'Cinta Kasih untuk Semua'. Kita hadir bukan hanya untuk membaca ayat-ayat suci, tetapi juga untuk menadabburi, merasakan, dan menghidupkan cinta kasih dalam diri," ucap Turita dengan suara lembut namun penuh daya.

Sesi meditasi berlangsung sekitar 20 menit. Peserta tampak larut dalam keheningan, meresapi setiap kata yang dipandukan oleh Turita. Beberapa peserta terlihat meneteskan air mata, tersentuh oleh kedalaman makna yang dihadirkan.

Penampilan Seni yang Menyejukkan

Sepanjang acara, Swara SeadaNya dan Yogie Sany turut memeriahkan dengan alunan musik dan nyanyian bernuansa spiritual. Pembacaan puisi juga mewarnai jalannya acara, menambah kedalaman makna tadarus cinta yang diusung.

Penampilan seni tersebut tidak sekadar hiburan, tetapi menjadi media untuk menyampaikan pesan-pesan cinta kasih yang menyejukkan. Musik dan puisi menjadi bahasa universal yang menyatukan hati para peserta.

Syiar Ramadan Kampus UI Resmi Dimulai

Di akhir acara, diumumkan bahwa Tadarus Cinta di Majelis Nyala Purnama #10 ini juga menjadi momen dimulainya Syiar Ramadan Kampus UI yang akan berlangsung hingga tanggal 14 Maret 2026. Rangkaian kegiatan selama Ramadan akan diisi dengan berbagai acara keagamaan, diskusi, dan kegiatan sosial yang melibatkan sivitas akademika UI dan masyarakat umum.

"Kami berharap Syiar Ramadan Kampus UI bisa menjadi ruang bagi seluruh civitas akademika untuk meningkatkan spiritualitas sekaligus berkontribusi positif bagi masyarakat sekitar," ujar perwakilan panitia.

Refleksi: Cinta sebagai Bahasa Universal

Acara Tadarus Cinta di Makara Art Center UI ini menjadi bukti bahwa Ramadan bisa diisi dengan kegiatan yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga kultural dan intelektual. Perpaduan antara orasi budaya, diskusi filsafat, testimoni inspiratif, hingga meditasi menciptakan pengalaman spiritual yang holistik.

-
Filsuf Rocky Gerung menyampaikan pandangannya tentang makna cinta dan patriotisme dalam forum Tadarus Cinta di UI. Ia menyindir kasus mahasiswa penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, yang ramai dihujat warganet terkait narasi nasionalisme.

Peserta yang hadir tidak hanya mendapatkan pencerahan secara spiritual, tetapi juga wawasan baru tentang makna cinta dalam berbagai dimensi kehidupan. Mulai dari cinta pada budaya seperti yang ditunjukkan Dwi Woro, hingga cinta pada tanah air yang dibedah Rocky Gerung dengan perspektif kritisnya.

Dr. Ngatawi Al Zastrouw menutup acara dengan pesan bahwa cinta sejati adalah cinta yang tidak membeda-bedakan. "Cinta kasih terhadap semua, itulah inti dari ajaran semua agama. Mari kita rawat cinta ini, tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi sepanjang masa," pungkasnya.

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa hingga peserta meninggalkan Makara Art Center. Malam itu, cinta benar-benar menjadi bahasa universal yang menyatukan jiwa-jiwa yang haus akan kedamaian.

Baca juga:.

Antara Dapur MBG dan Nyawa di Tual, GMNI Jakarta Timur Nilai Polri Perlu Kembali ke Khittah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

X