KOTA BATU, indoindikator.com — Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Kota Batu ditandai dengan aksi nyata yang bersentuhan langsung dengan alam. Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Malang Raya bersama Perkumpulan Pecinta Alam Batu Ijo Royo-Royo (PPA_BIRR) menyelenggarakan penanaman pohon cemara pecut endemik di Jalibar, Desa Oro-Oro Ombo, Senin (9/2/2026).
Kolaborasi yang didukung oleh Pemerintah Desa dan Polres Batu ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan manifestasi konkret dari tanggung jawab sosial pers terhadap keberlanjutan lingkungan.
Inisiatif ini memperluas pemahaman tentang peran insan media, dari sekadar pelapor berita menjadi pelaku aktif dalam aksi-aksi pembangunan berkelanjutan. Dengan memilih spesies asli Batu, kegiatan ini juga mengedepankan pentingnya restorasi ekologis berbasis kearifan lokal.
Sinergi Multisektoral: Kolaborasi untuk Dampak Berkelanjutan
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 14.00 WIB ini menghadirkan perwakilan dari empat pilar penting:
· Dunia Pers: Doi Nuri (Ketua SMSI Malang Raya) dan sejumlah pengurus yang berprofesi di media.
· Komunitas Lingkungan: Erfan HP (Ketua PPA_BIRR) dan Sekretaris Heru Iswanto beserta anggota.
· Pemerintahan Desa: Diwakili oleh Kepala Dusun Dresel, Sukris.
· Aparat Keamanan: Ps. Kasi Humas Polres Batu, Iptu M. Huda Rohman.
Heru Iswanto selaku Sekretaris PPA_BIRR menjelaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari semangat Hari Lingkungan Hidup Nasional dan Gerakan Satu Juta Pohon 2026. "Kebetulan bertepatan dengan HPN 2026, dan karena pengurus kami banyak yang bekerja di media, kami jadikan momentum ini sebagai peringatan HPN yang berbeda," ujarnya. Ini menunjukkan kesadaran bahwa isu lingkungan dan peran pers dapat berjalan beriringan.
Cemara Pecut: Simbol Identitas dan Komitmen Ekologis
Pemilihan cemara pecut (Cupressus sp.) sebagai pohon yang ditanam mengandung pesan mendalam. Doi Nuri menekankan bahwa pohon ini adalah endemik Kota Batu. "Saya berharap dengan gerakan ini, teman-teman media bisa semakin peduli terhadap kelestarian alam, khususnya di Batu," harap Ketua SMSI Malang Raya tersebut.
Penanaman spesies endemik memiliki keunggulan ekologis yang signifikan:
· Adaptasi Tinggi: Sudah terbiasa dengan kondisi tanah dan iklim setempat, sehingga memiliki daya tahan dan peluang hidup yang lebih baik.
· Pemulihan Ekosistem: Membantu mengembalikan vegetasi asli dan mendukung rantai makanan satwa lokal.
· Pencegahan Bencana: Sistem perakaran yang kuat dapat membantu menahan erosi tanah di kawasan lereng.
Dengan memilih cemara pecut, aksi ini naik level dari sekadar "penghijauan" menjadi upaya konservasi keanekaragaman hayati lokal.
Dukungan Institusi: Polres Batu Apresiasi Inisiatif Warga
Kehadiran perwakilan Polres Batu memberikan dimensi dukungan keamanan dan ketertiban bagi kegiatan lingkungan. Iptu Huda Rohman menyatakan bahwa pihaknya sangat mendukung aksi penghijauan ini. "Semoga bermanfaat bagi Kota Batu, khususnya untuk wilayah yang vegetasinya berkurang," tegasnya. Dukungan ini penting untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi partisipasi masyarakat dalam pelestarian alam.
Merenungkan Makna HPN: Dari Narasi ke Aksi
Kegiatan ini menawarkan interpretasi segar tentang esensi Hari Pers Nasional. Alih-alih hanya fokus pada diskusi internal dan peningkatan kapasitas jurnalistik, SMSI Malang Raya memilih untuk merayakan HPN dengan memberikan kontribusi fisik langsung kepada bumi dan masyarakat.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip jurnalisme pelayanan publik (public service journalism). Insan pers tidak hanya bertugas melaporkan masalah (seperti degradasi lingkungan), tetapi juga dapat terlibat dalam bagian dari solusi. Aksi nyata seperti ini membangun kepercayaan dan kedekatan emosional dengan masyarakat, sekaligus mendemonstrasikan kepemimpinan dalam isu-isu strategis.
Konteks yang Lebih Luas: Memahami Dua Wajah Hari Pers
Menyambung pernyataan Hari Wicaksono, Wakil Ketua Umum PPA_BIRR, aksi ini juga menjadi momentum edukasi tentang perbedaan antara Hari Pers Nasional (HPN) dan Hari Kemerdekaan Pers Sedunia (HKPS).
· HPN (9 Februari): Merayakan peran pers dalam konteks kebangsaan dan pembangunan. Aksi tanam pohon adalah wujud nyata dari semangat HPN untuk bersinergi membangun negeri.
· HKPS (3 Mei): Menyoroti isu kebebasan pers, keselamatan jurnalis, dan independensi media secara global.
Meski fokusnya berbeda, keduanya bertujuan mewujudkan ekosistem informasi yang sehat dan bertanggung jawab. Kepedulian terhadap lingkungan adalah bagian integral dari tanggung jawab sosial yang diemban pers, karena informasi tentang krisis iklim dan kelestarian alam sangat krusial bagi masa depan publik.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Keberhasilan kolaborasi ini membuka peluang untuk model kemitraan serupa di masa depan. Tantangannya adalah menjadikan aksi seperti ini berkelanjutan dan terevaluasi, bukan sekadar kegiatan seremonial satu kali. Pemantauan pertumbuhan pohon, keterlibatan masyarakat sekitar dalam perawatan, dan pelaporan perkembangan secara transparan dapat menjadi langkah lanjutan.
Harapannya, inisiatif dari Batu ini dapat menginspirasi chapter SMSI dan organisasi pers lainnya di seluruh Indonesia untuk mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam program kerja dan perayaan HPN mereka.
-
Kesimpulan: Menanam untuk Masa Depan yang Lebih Hijau dan Bertanggung Jawab
Aksi penanaman pohon oleh SMSI Malang Raya dan PPA_BIRR pada HPN 2026 telah memberikan pelajaran berharga. Peran pers abad ke-21 dituntut untuk lebih proaktif, relevan, dan solutif terhadap tantangan zaman, termasuk krisis lingkungan.
Dengan menyingsingkan lengan dan menyentuh tanah, insan pers mengingatkan kita semua bahwa kata-kata perlu diwujudkan dalam tindakan. Seperti pohon cemara pecut yang akan tumbuh membawa manfaat jangka panjang, semoga semangat kolaborasi dan kepedulian lingkungan ini juga terus bertumbuh, mengakar kuat, dan menghijaukan masa depan jurnalisme Indonesia.
Baca juga:
Edukasi Etika Media Sosial dari Dosen UNPAM untuk Anak Muda Tangerang