• Sabtu, 20 Juni 2026

Merajut Asa di Balik Tembok Griya Shanta: Mencari Celah Dialog di Tengah Polemik Pembangunan Kota

Photo Author
Redaksi, IndoIndikator.com
- Jumat, 31 Oktober 2025 | 17:40 WIB
Ruang musyawarah menjadi tempat mengalirnya aspirasi. Di sini, bukan amarah yang dominan, melainkan keinginan kuat untuk didengar dan dicarikan solusi terbaik.
Ruang musyawarah menjadi tempat mengalirnya aspirasi. Di sini, bukan amarah yang dominan, melainkan keinginan kuat untuk didengar dan dicarikan solusi terbaik.

KOTA MALANG, Indoindikator.com - Ada lebih dari sekadar batu dan semen pada tembok pembatas yang mengelilingi Perumahan Griya Shanta, Mojolangu. Di balik strukturnya yang kokoh, tersimpan narasi tentang sebuah rumah, rasa aman, dan jejaring sosial yang telah ditenun puluhan tahun lamanya. Kini, narasi tenang itu terancam tergantikan oleh deru pembangunan dan polemik yang menyertainya.

Konflik yang mengemuka seringkali dilihat sebagai pertarungan hitam-putih: warga versus pemerintah. Namun, bila kita menyelami lebih dalam, yang terjadi di Griya Shanta adalah potret kompleks dari sebuah proses pembangunan kota yang kehilangan sentuhan empati dan partisipasi.

-
Inisiatif warga: membuat kajian mandiri. Mereka memetakan sendiri dampak yang akan timbul, menunjukkan keseriusan dan kepedulian terhadap lingkungannya.

Tembok sebagai Simbol Ketenangan yang Terancam

Bagi warga seperti Sugiharso,Ketua RT 4, tembok itu adalah penjaga kenangan. "Kami membangun kehidupan di sini dengan susah payah. Setiap jengkal tanah ini menyimpan cerita keluarga, tawa anak-anak, dan obrolan ringan di antara tetangga. Rencana pembongkaran yang datang tiba-tiba terasa seperti mengusik ketenangan yang sudah menjadi hak kami," ujarnya dengan nada yang lebih sedih daripada marah.

Kekhawatiran mereka bukan tanpa dasar. Hilangnya batas fisik berpotensi mengubah drastis karakter lingkungan. Dari kawasan permukiman yang tenang, menjadi daerah yang ramai oleh kendaraan dari perumahan baru. "Ini soal kualitas hidup. Kami khawatirkan keselamatan anak-anak yang biasa bermain, dan polusi udara yang akan meningkat," tambah seorang ibu yang enggan namanya disebut.

Aspirasi yang Tersumbat di Balik Birokrasi

Yang paling disesalkan warga bukanlah penolakan mereka terhadap pembangunan.Melainkan, cara rencana itu dihadirkan kepada mereka. Andi Rachmanto, perwakilan warga yang juga alumnus Unisma, menyoroti masalah utama: komunikasi yang terputus.

"Esensi dari tata kelola yang baik adalah dialog. Namun, yang kami terima adalah monolog melalui selembar surat peringatan dari Satpol PP. Bayangkan, alih-alih diajak berbicara, kami justru dihadapkan pada ancaman. Itu yang merusak trust, kepercayaan dasar antara warga dan pemerintah," papar Andi dengan analisis yang tajam.

Dokumen surat dari DPUPR yang mengungkap proyek ini untuk kepentingan PT. Farsawan Sejahtera semakin mengaburkan niat baik. Warga mempertanyakan, di mana posisi mereka dalam peta kepentingan ini? Apakah suara mereka hanya akan menjadi batu pijakan bagi kepentingan investasi semata?

Mencari Jalan Tengah: Dari Konfrontasi ke Kolaborasi

Lantas,adakah cahaya di ujung terowongan? Warga Griya Shanta sebenarnya tidak menutup diri. Mereka berharap ada rekonsiliasi dan ruang dialog yang sejajar.

"Kami tidak anti-pembangunan. Kami hanya ingin dilibatkan. Tunjukkan kepada kami studi kelayakannya, analisis dampak lalu lintasnya (Amdal Lalin), dan yang paling penting, dengar keluh kesah kami sebagai pihak yang paling terdampak. Mari duduk bersama, cari solusi yang tidak mengorbankan salah satu pihak," ajak Andi mewakili suara kolektif warga.

-


Pelajaran dari Griya Shanta mengingatkan kita bahwa pembangunan yang berkelanjutan haruslah manusiawi. Ia harus dibangun di atas pilar partisipasi, transparansi, dan rasa saling menghargai. Tembok mungkin bisa dibongkar dalam hitungan hari, tetapi memulihkan kepercayaan dan rasa aman yang hilang, membutuhkan waktu yang jauh lebih lama.

Kisah Griya Shanta adalah cermin bagi kita semua: sebuah kota tidak hanya dibangun dari beton dan aspal, tetapi terutama dari rasa memiliki dan keadilan bagi seluruh penghuninya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

X