• Sabtu, 20 Juni 2026

Setahun Prabowo–Gibran: Negara yang Berlari, Rakyat yang Menunggu Nafas

Photo Author
Redaksi, IndoIndikator.com
- Senin, 20 Oktober 2025 | 13:02 WIB

Oleh: Akaha Taufan Aminudin

Kota Batu, Indoindikator.com - Satu tahun pemerintahan Prabowo–Gibran telah berlalu. Negeri ini seperti kereta cepat yang melaju di atas rel ambisi — gagah di brosur, riuh di pidato, namun di dalam gerbongnya rakyat masih berdesakan mencari ruang untuk bernapas.

Janji-janji tentang kedaulatan pangan, kemakmuran rakyat, dan kesejahteraan sosial masih menggantung di udara seperti bendera yang belum berkibar penuh. Pemerintah berbicara tentang percepatan pembangunan, digitalisasi ekonomi, dan lompatan kemajuan. Tetapi di banyak pelosok, rakyat justru masih sibuk menambal atap, mencari sinyal, dan mengeluh soal harga beras yang tak lagi ramah di dapur.

Pemerintahan ini gemar berbicara dengan diksi besar — “transformasi”, “revolusi industri”, “kemandirian bangsa”. Tapi di lapangan, banyak warga hanya mendengar gema dari kata-kata itu, tanpa pernah merasakan wujudnya.
Yang kaya semakin lihai memanfaatkan momentum. Yang kecil semakin piawai menyesuaikan lapar. Dan rakyat kecil, seperti biasa, menjadi penonton paling setia dari panggung besar yang disebut “pembangunan nasional”.

Janji yang Berlari, Rakyat yang Berjalan di Tempat

Satu tahun ini, kita melihat arah negara yang lebih militeristik dalam nada, tapi masih pragmatis dalam kebijakan. Ketegasan dijadikan simbol, namun kadang lupa bahwa ketegasan tanpa empati hanya menghasilkan ketakutan.
Di banyak daerah, suara rakyat kecil semakin lirih — karena siapa yang berani bersuara keras, sering kali dibungkam oleh stigma “tidak nasionalis”, “tidak cinta tanah air”.

Padahal cinta tanah air bukanlah tunduk, tapi peduli.
Dan kritik adalah bentuk kasih yang paling jujur.

Banyak kebijakan tampak seperti pertunjukan kecepatan: infrastruktur dibangun, investasi digadang, proyek diumumkan silih berganti. Tapi pembangunan tanpa pemerataan ibarat gedung tinggi tanpa tangga — hanya yang punya akses bisa naik, yang lain menatap dari bawah dengan getir.

Demokrasi yang Pelan-pelan Menjadi Formalitas

Di media sosial, kita disuguhi wajah-wajah optimis, tagar-tagar penuh semangat, dan berita yang seragam dalam pujian. Tapi di balik layar, ada kegelisahan yang tumbuh: apakah demokrasi kita sedang dijinakkan menjadi dekorasi belaka?
Ketika ruang kritik disempitkan oleh euforia pencitraan, yang lahir bukan lagi kebebasan, melainkan kepatuhan massal yang dibungkus senyum.

Kritik dianggap ancaman. Oposisi dibungkam dengan jabatan. Media dikekang dengan iklan. Dan rakyat, pelan-pelan belajar diam — karena diam kini terasa lebih aman daripada benar.

Kita sedang hidup di zaman di mana “positif thinking” disulap menjadi ideologi baru. Segala keluhan dicap pesimis, segala kritik dianggap gangguan. Padahal bangsa yang besar bukanlah bangsa yang selalu memuji pemimpinnya, melainkan yang berani menegur dengan cinta.

Harapan yang Belum Diterjemahkan

Satu tahun pemerintahan ini ibarat sebuah prolog yang megah tapi belum memiliki isi yang menyentuh akar.
Rakyat menunggu bukti dari setiap slogan. Petani menunggu air. Guru menunggu penghargaan. Nelayan menunggu harga yang adil. Kaum muda menunggu ruang untuk bermimpi tanpa harus merantau.

Pemerintah boleh berlari secepat impiannya, tetapi rakyat tetap menuntut satu hal sederhana: kehadiran yang nyata.

Sebab sejarah bukan mencatat siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling peduli.

Penutup: Tentang Hening yang Tak Pernah Dibicarakan

Di tengah gegap gempita upacara dan angka-angka pertumbuhan, ada satu hal yang terasa hilang: nurani kebangsaan yang mendengar dari bawah.
Negara boleh kuat di statistik, tapi rapuh di simpati. Ia bisa megah di dunia maya, tapi sunyi di warung kopi tempat rakyat membicarakan nasibnya sendiri.

Satu tahun ini mengajarkan kita sesuatu: bahwa kekuasaan bisa menjanjikan segalanya, tetapi tanpa keberpihakan, ia hanya akan menciptakan jurang antara istana dan rakyatnya.

Bangsa ini tidak butuh pemimpin yang sekadar gagah di podium.
Ia butuh pemimpin yang mau mendengar — bahkan ketika rakyat berbicara dengan suara paling lirih di bawah langit yang penuh janji.

Dan sampai hari itu tiba, negeri ini akan terus berlari…
sementara rakyat masih menunggu napas.

Senin Kliwon 20 Oktober 2025
Akaha Taufan Aminudin
Sisir Gemilang Kampung Baru Literasi SIKAB Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara HP3N Kota Batu Wisata Sastra Budaya SATUPENA JAWA TIMUR INDONESIA

#SetahunPrabowoGibran
#MarsinahPahlawanNasional #PerjuanganBuruh #DemokrasiIndonesia #KemensosSelaluAda
#SatuPenaJawaTimur #HP3NKreatifBatu #KotaBatuLiterasiSastra #PuisiUntukRakyat #SastraSebagaiPengadilan
#reels #video #berita_viral #fbpro #fyp #global

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

X