• Sabtu, 20 Juni 2026

Keluarga dan Generasi Muda: Fondasi Utama Menuju Indonesia Emas 2045

Photo Author
Redaksi, IndoIndikator.com
- Rabu, 27 Agustus 2025 | 13:02 WIB

Bogor, indoindikator.com – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga), Dr. Wihaji, S.Ag, M.Pd, menegaskan bahwa generasi muda dan keluarga merupakan dua pilar fundamental yang saling terkait dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Hal ini disampaikan dalam kuliah umum di hadapan 700 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) pada Selasa (26/8/2025) di Graha Widya Wisuda IPB, Bogor, Jawa Barat.

? Investasi SDM: Kunci Daya Saing Bangsa

Menurut Menteri Wihaji, pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) adalah investasi krusial untuk menciptakan generasi yang berkualitas dan berdaya saing global. "Investasi SDM harus selaras dengan perubahan, tantangan, dan peluang yang ada," tegasnya .

Ia mengibaratkan mahasiswa sebagai "emas 18 karat" yang sedang diasah menjadi "emas 24 karat" melalui pendidikan tinggi. "Jangan sia-siakan kesempatan menimba ilmu. Kalian adalah usia produktif, jangan sampai tidak produktif," pesannya .

? Bonus Demografi: Peluang Emas yang Harus Dimanfaatkan

Indonesia saat ini berada dalam periode bonus demografi (2020-2045), di mana 70,72% penduduk berada dalam usia produktif. Menteri Wihaji menyebutkan empat kondisi penentu keberhasilan bonus demografi:

1. Penduduk usia produktif yang berkualitas.
2. Peningkatan partisipasi perempuan dalam pasar kerja.
3. Penciptaan lapangan kerja oleh pemerintah.
4. Pengendalian tingkat kelahiran .

Generasi muda diharapkan menjadi aktor pembangunan yang berkualitas, membangun keluarga berkualitas, dan menjadi agen perubahan sosial .

-


?‍?‍? Fenomena Childfree: Tantangan Baru Kependudukan

Menteri Wihaji juga menyoroti fenomena childfree (keputusan untuk tidak memiliki anak) sebagai tantangan dalam dinamika kependudukan. Fenomena ini telah memengaruhi Total Fertility Rate (TFR) di berbagai negara, termasuk Jepang (1,2 anak per wanita) dan Korea Selatan (0,75 anak per wanita) .

Di Indonesia, TFR mengalami penurunan dari 2,41 (2010) menjadi 2,14 (2023). Jumlah perkawinan juga turun 30% dari 2,11 juta (2014) menjadi 1,48 juta (2024). "Ini bukan sekadar tren viral, tetapi refleksi pergeseran sosial, ekonomi, dan budaya," ujarnya .

?️ Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK): Solusi Berbasis Data

Untuk membangun SDM berkualitas, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga mengembangkan Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) sebagai pedoman bagi pemerintah daerah. PJPK mengintegrasikan data kependudukan dengan perencanaan pembangunan, termasuk sektor pendidikan, ketenagakerjaan, dan jaminan sosial .

"Isu kependudukan adalah isu urgensi. Pertumbuhan ekonomi 8% harus didukung oleh analisis kependudukan yang komprehensif," tegas Menteri Wihaji .

? Implikasi dan Strategi Ke Depan

1. Pembangunan Keluarga Berkualitas: Keluarga harmonis dan berkualitas menjadi fondasi bagi generasi muda yang berintegritas dan inovatif .
2. Penyiapan Generasi Produktif: Generasi muda harus mempersiapkan investasi hari tua untuk menghindari risiko sandwich generation .
3. Diskusi Inklusif tentang Childfree: Perlu ruang diskusi yang inklusif untuk memahami dampak childfree terhadap demografi bangsa .
4. Integrasi Kebijakan Kependudukan: Kebijakan kependudukan harus terintegrasi dengan sektor lain untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan .

? Data Tingkat Kesuburan (TFR) di Beberapa Negara

Negara TFR (2023) Kategori
Korea Selatan 0.75 Terendah di dunia
Jepang 1.2 Di bawah tingkat pemeliharaan populasi
Indonesia 2.14 Tren menurun

Sumber: BKKBN (2024)

?️ Dukungan Regulasi dan Kelembagaan

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga memiliki dasar hukum yang kuat, termasuk:

· Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 87 Tahun 2014 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga .
· Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 180 Tahun 2024 tentang Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga .

? Kesimpulan

Menteri Wihaji menegaskan bahwa keluarga dan generasi muda adalah penentu masa depan Indonesia. Dengan memanfaatkan bonus demografi, membangun SDM berkualitas, dan mengatasi tantangan seperti fenomena childfree, Indonesia dapat mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 yang berdaulat, maju, adil, dan makmur.

Dengan penyajian yang lebih menarik, data yang diperkaya, dan struktur yang jelas, artikel ini diharapkan dapat lebih engaging bagi pembaca indoindikator.com.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

X